Berbicara kaitannya dengan pahlawan
tatar sunda, terdapat banyak pahlawan yang tidak terlalu dikenal oleh
masyarakat umum. Padahal jasa mereka terhadap pertahanan negara dapat diperhitungkan
sebagai seorang pahlawan nasional. Salah satu dari mereka adalah tokoh yang
bernama Mohammad Toha. Menurut saya, tokoh ini tidak begitu terkenal di telinga
masyarakat pada umumnya. Masyarakat hanya mengenal Mohammad Toha ini sebagai
salah satu nama jalan yang terdapat di kota Bandung. Meski demikian, monumen
tokoh ini dapat dilihat jika kita berkunjung ke daerah Dayeuhkolot. Karena, di
tempat tersebutlah terjadinya sebuah peristiwa yang berkaitan dengan sepak
terjang Mohammad Toha. Peristiwa yang tentu tidak akan pernah terlupakan oleh
masyarakat Bandung khususnya, yakni Bandung Lautan Api (BLA).
Tokoh Mohammad Toha ini ternyata tidak berbeda
jauh dengan tokoh Dipati Ukur yang telah dibahas minggu lalu, sepak terjangnya
dalam membela tanah air dan gelarnya sebagai pahlawan masih menjadi hal yang
kontroversi. Toha dikenal sebagai tokoh yang meledakan gudang mesiu milik
Belanda (javakini, 2011) sebagai salah satu kronologis peristiwa Bandung Lautan
Api. Berdasarkan catatan sejarah, peristiwa yang jatuh pada 24 Maret 1946
dilatarbelakangi oleh keinginan Inggris menguasai wilayah Bandung guna
dijadikan markas militer mereka dalam menghadapi perang Kemerdekaan Indonesia.
Keinginan pihak sekutu hampir terlaksana, dengan telah dikuasainya Bandung
bagian utara. Karena dirasa sedikit langkah lagi dalam menguasai Bandung kala
itu, Inggris mengeluarkan ultimatum bagi warga Bandung untuk segera
mengosongkan Bandung Selatan dalam jangka waktu dua hari yakni dari tanggal
23-24 Maret 1946.
Awalnya
Nasution bersama Tentara Rakyat Indonesia (TRI) menuruti keinginan Inggris,
namun ketika diadakan rapat menjelang hari terakhir berlakunya ultimatum ada
yang mencetuskan bahwa daripada Bandung jatuh pada pihak sekutu, lebih baik
Bandung dibumihanguskan guna menghindari penguasaan Bandung dijadikan sebagai
markas militer Inggris. Hal ini akhirnya disepakati, dan pada 23 Maret 1946
pukul 20.00WIB kota Bandung telah dibumihanguskan dan telah kosong dari
penduduk serta TRI yang ada sebelumnya. Sehingga dimana-mana asap hitam mulai mengepul
membumbung tinggi ke udara mengiringi rombongan besar penduduk Bandung yang meninggalkan
kota Bandung. Menurut sebuah artikel (Soemitro, 2012) puncak dari
peristiwa ini adalah pembakaran yang mengakibatkan ledakan besar di gudang
amunisi milik tentara Sekutu yang dilakukan Mohammad Toha dan Mohammad
Ramdan, dua anggota milisi barisan Rakyat Indonesia (BRI). Tugas ini berhasil
dieksekusi dengan baik oleh Mohammad Toha, akan tetapi menyebabkan dirinya
dan Mohammad Ramdan meninggal dalam ledakan dan kebakaran gudang
tersebut.
Selama
67 tahun, masyarakat kota Bandung selalu memperingati peristiwa yang kala itu
Bandung menjadi sebuah lautan api. Melalui peristiwa tersebut dapat menorehkan
satu tokoh yang amat berjasa karena tindakan kepahlawanannya yang mampu
meledakkan sebuah gudang amunisi milik sekutu saat itu. Tokoh Muhammad Toha
hingga kini menjadi bagian dari sebuah perdebatan akibat penolakan dari Badan
Pembina Pahlawan Pusat (BPPP) terhadap pengajuan status kepahlawanannya. Padahal,
dukungan masyarakat terhadap penganugerahan gelar pahlawannya begitu besar,
karena terdapatnya riset atau penelitian terhadap kontribusi Mohammad Toha
dalam peristiwa heroik Bandung lautan api. Menurut sejarawan Nina Herlina Lubis
(pikiranrakyat, 2012) mengatakan bahwa kepahlawanan Mohammad Toha, menurutnya
begitu legendaris dan dikenal masyarakat. Di daerah pun Tim Peneliti dan
Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) sudah mendapat rekomendasi lebih dari 200
lembaga, artinya masyarakat Jabar ingin Mohammad Toha menjadi pahlawan
nasional.
Berdasarkan penelitian, pencarian
data yang dilakukan terhadap kasus Muhammad Toha ini telah sampai pada saksi
mata (eye witnes). Di mana terdapat
saksi mata yang melihat dan mengantarkan Mohammad Toha berenang ketika malam
hari menuju gudang mesiu dan menjelang pagi harinya ada ledakan di gedung
tersebut. Dari 11 anggota pasukan yang berangkat kala itu, sembilan orang
kembali dengan terluka dan meninggalkan dua orang, yakni Mohammad Toha dan
Mohammad Ramdan. Kemudian, keesokan harinya terdapat ledakan yang merenggut
nyawa keduanya. Logika kita harus jalan untuk menanggapi masalah ini, karena
tidak ada selain mereka di gedung mesiu tersebut. Selain itu, menurut Nina
Herlina (pikiranrakyat, 2012), saudara dari Mohammad Toha sebelum kejadian
telah melihatnya membawa granat untuk meledakan gudang mesiu. Meski demikian,
BPPP tidak menanggapi pernyataan tersebut dan menolak Muhammad Toha untuk
diajukan sebagai pahlawan nasional melalui surat yang diterima oleh Gubernur
Jawa Barat Dni Setiawan pada tahun 2007 lalu. Di dalam surat tersebut menyebutkan bahwa Mohammad Toha tidak dapat
diusulkan lagi menjadi pahlawan nasional karena sudah mendapat penghargaan
bintang jasa Mahaputra Pratama sebagai lambang dari aksi heroiknya.
Menurut saya, penolakkan gelar
pahlawan dari Muhammad Toha ini terdapat alasan politik yang ikut berperan
dalam penentuan tersebut. Misalnya, seorang pejabat yang meninggal akibat
pesawat yang ditumpanginya itu jatuh, karena sedang menjalankan tugas tiba-tiba
dengan tanpa diseminarkan langsung jadi pahlawan nasional. Sementara itu,
Inggit Garnasih yang berjuang membela bangsa Indonesia belum juga menjadi
pahlawan nasional, sama nasibnya seperti Muhammad Toha.
Sumber:
Javakini.
(2011). Dayeuh Kolot dan Bandung Lautan
Api. [online]. Tersedia: http://javakini.com/index.php/bingkai/114-dayeuhkolot-dan-bandung-lautan-api. [23 Oktober 2013].
Pikiran
rakyat. (2012). Pemerintah Pusat Abaikan
Aspirasi Masyarakat Jabar dalam Penganugerahan Gelar Pahlawan. [online].
Tersedia: http://www.pikiran-rakyat.com/node/210872.
[23 Oktober 2013].
Soemitro,
Maria. (2012). Mohammad Toha, Pahlwan
Bandung Lautan Api. [online]. Tersedia: http://sejarah.kompasiana.com/2012/11/10/mohammad-toha-pahlawan-bandung-lautan-api-501907.html. [19 Oktober 2013].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar