Minggu, 27 Oktober 2013


Hari Pahlawan yang selalu diperingati pada tanggal 10 November oleh semua warga Indonesia, merupakan hari di mana pahlawan-pahlawan Indonesia melakukan perang dan pemberontakan terhadap pemerintahan kolonial. Peringatan hari Pahlawan ini bukan hanya sekedar hadiah bagi rakyat Indonesia, melainkan momen untuk mengenang jasa para pahlawannya dalam melakukan perjuangan demi memperoleh kemerdekaan. Namun, jika kita melihat pada masa lalu perjuangan para pahlawan tidak dapat dibayar dalam bentuk apa pun. Hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November merupakan hari di mana terjadinya pertempuran di Surabaya antara Indonesia dengan Inggris pada tahun 1945. Pertempuaran ini adalah pertempuaran pertama paska terjadinya proklamasi kemerdekaan. Terdapat banyak insiden pada peristiwa ini, seperti perobekan bendera Belanda yang terjadi di hotel Yamato hingga tewasnya Brigadir Jendral Mallaby oleh salah seorang pemuda Indonesia. Hal ini menyebabkan munculnya ultimatum terhadap Indonesia untuk menyerahkan seluruh persenjataan pada pihak lawan, dengan batas waktu hingga 10 November 1945. Ultimatum tersebut pun ditolak, yang akhirnya pada batas akhir Surabaya di bom bardir. Pihak Indonesia yang kala itu dipimpin oleh tokoh ternama yakni Bung Tomo dengan slogannya yang terkenal “arek-arek Suroboyo” mengerahkan para pemuda dan seluruh rakyat Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap mereka. Namun, pada akhirnya Surabaya tetap jatuh di tangan sekutu. Pertempuran yang menewaskan ribuan korban jiwa telah menggerakkan seluruh rakyat Indonesia melakukan perlawan dan mengusir penjajah untuk mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur pada 10 November menjadikan waktu yang dikenang oleh bangsa Indonesia sebagai hari Pahlawan hingga saat ini.
Dengan melihat sejarah para pahlawan yang memperjuangkan tanah air, selayaknya kita sebagai warga negara yang berbudi pekerti wajib menundukkan kepala dan mengenang jasa pahlawan. Meski setiap tahun kita mengenangnya, akan tetapi mutu peringatan itu mulai menurun. Maka, hal itu dapat kita lakukan saat ini dengan cara belajar sungguh-sungguh demi tercapainya cita-cita yang dapat mengharumkan nama bangsa nantinya. Menurut salah satu artikel (Gemari, 2009) untuk menjawab penghargaan bagi para pahlawan, selayaknya warga Indonesia saat ini bergiat untuk melakukan pembangunan yang progresif. Pembangunan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan study tour mengunjungi tempat-tempat bersejarah sekaligus melakukan bakti sosial di sana. Kemudian dapat dilanjutkan dengan mempromosikan tempat tersebut hingga akhirnya dapat menjadi daya tarik tersendiri baik itu bagi penduduk lokal bahkan hingga kancah internasional. Selain itu, dapat pula dengan meniru semangat perjuangannya dan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti, sikap berani, pantang menyerah, rela berkorban dan menolong sesama. Sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah, saya juga menyarankan hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk mengenang jasa pahlawan, diantaranya melalui pengangkatan nama pahlawan dalam bentuk tulisan yang tercetak dalam buku-buku pelajaran atau kalau menurut catatan tesis (Binus, 2011) dapat pula dengan menuliskan gagasan pikiran terkait dengan perjuangan pahlawan di berbagai media. Dalam bidang kreatif, penghormatan pada jasa para pahlawan pu dapat diangkat dan dituangkan ke dalam bentuk komik, novel bahkan film.



Sumber:
Gemari. 2009. Hari Pahlawan Semangati Pemberdayaan Masyarakat. [Online]. Tersedia: www.gemari.or.id/file/edisi106/gemari10605.pdf.  [11 September 2013].
Binus. 2011. Tanpa Judul. [Online]. Tersedia: thesis.binus.ac.id/doc/Bab1/2011-2-00243-ds%20bab%201.pdf. [11 September 2013].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar