Jumat, 30 Agustus 2013

Panjat Pinang


PANJAT PINANG, PERLOMBAAN KHAS 17 AGUSTUS
Oleh
Divi Anggraeni

          Berita terkini datang dari negara kepulauan terbesar di dunia, yakni Indonesia. Ragam budaya yang dimiliki Indonesia memiliki daya tarik tersendiri baik bagi masyarakat Indonesia, maupun masyarakat mancanegara. Demikian pula dengan tradisi-tradisi yang dilakukan masyarakat Indonesia, memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh negara lain. Misalnya saja tradisi mudik saat menjelang hari raya Idul Fitri, tradisi pusat perbelanjaan yang memberikan diskon pada setiap barang yang berkaitan dengan kebutuhan menjelang hari-hari besar (Idul Fitri, Natal,dll), tradisi membeli baju baru untuk dikenakan di hari raya, tradisi mengadakan perlombaan ketika memeperingati hari kemerdekaan dan sebagainya.
            Sebagaimana adat istiadat yang dimilki oleh setiap daerah, beragam tradisi yang telah disebutkan sebelumnya juga dilakukan secara turun-temurun, sayangnya banyak masyarakat yang belum mengetahui asal muasal tradisi yang mereka lakukan tersebut. Beberapa tradisi unik masyarakat Indonesia umumnya akan banyak ditemukan dalam umat Islam, khususnya menjelang bulan Ramadhan, ketika bulan Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri. Namun kali ini, tradisi saat menyambut hari kemerdekaanlah yang menjadi pilihan untuk dikaji, yakni tradisi panjat pinang sebagai salah satu perlombaan bahkan olahraga yang sering diadakan oleh masyarakat Indonesia umumnya.
            Panjat pinang adalah salah satu lomba tradisional yang populer pada perayaan hari kemerdekaan (Wikipedia, 2013). Jenis perlombaan ini belum dapat ditemukan di negara lain, kecuali hanya terdapat di Indonesia saja. Maka tidak heran jika perlombaan ini termasuk ke dalam kategori perlombaan unik. Panjat pinang juga merupakan perlombaan yang banyak menarik perhatian masyarakat, khususnya bagi kaum pria. Jika dalam memperingati hari kemerdekaan tanpa hadirnya perlombaan panjat pinang ini, maka perayaan tersebut dirasa kurang meriah. Karena panjat pinang dianggap sebagai puncaknya dari sederetan perlombaan yang diadakan oleh masyarakat.
            Cara bermain dari lomba panjat pinang ini umumnya menggunakan sebuah pohon pinang tinggi yang ditancapkan pada tanah dan batangnya dilumuri oleh pelumas yang telah disiapkan oleh panitia perlombaan (Wikipedia, 2013). Kemudian, di bagian atas pohon tersebut disiapkan berbagai hadiah menarik seperti pakaian, peralatan rumah tangga, buku tulis, tas bahkan uang. Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon. Karena batang pohon tersebut licin, para pemanjat batang pohon sering kali jatuh. Strategi dan kerja sama para peserta untuk memanjat batang pohon inilah yang biasanya berhasil mengatasi licinnya batang pohon, dan menjadi atraksi menarik bagi para penonton.
            Perlombaan yang telah populer di kalangan rakyat Indonesia ini ternyata tidak selamanya disukai oleh masyarakatnya, karena menurut sebuah artikel terdapat sisi kelam dari tradisi panjat pinang (Nugum, 2011). Dalam sebuah sinetron “Para Pencari Tuhan” karya Deddy Mizwar, terdapat satu adegan dimana salah seorang tokoh ingin mengadakan acara Agustusan,  kemudian ada yang mengusulkan acaranya itu lomba panjat pinang, akan tetapi usulnya tersebut ditolak mentah-mentah dengan alasan, panjat pinang sebenarnya adalah salah satu hiburan bagi orang-orang Belanda ketika menjajah Bangsa Indonesia.
            Panjat pinang sebenarnya berawal ketika masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia tempo dulu. Ketika Belanda sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lainnya, mereka mengadakan lomba pijat pinang dengan pesertanya adalah orang pribumi. Hadiah yang diperebutkannya pun berbeda dengan sekarang, karena pada saat itu hadiah berupa bahan makanan seperti keju, gula, serta kemeja (Kidnesia, 2013). Sangat disayangkan, ketika orang pribumi sedang bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, orang-orang Belanda hanya duduk dan menonton aksi orang pribumi sambil tertawa.
Dapat dibayangkan bagaimana pada kala itu rakyat pribumi sedang mengalami masa penjajahan, ditambah mereka harus bersusah payah dengan berlumuran keringat. Sedangkan penjajah beserta keluarganya tertawa melihat penderitaan bangsa Indonesia. Bentuk perlombaan panjat pinang masih dilestarikan hingga saat ini, meski tradisi ini masih kontroversi. Bagi sebagian kalangan masyarakat, panjat pinang merupakan tantangan pendidikan yang mengajarkan orang untuk dapat bekerja sama, gotong royong, dan tidak putus asa dalam mencapai sebuah tujuan yang diharapkan. Akan tetapi, sebagian lainnya mengatakan panjat pinang merupakan sesuatu yang hanya merendahkan martabat rakyat Indonesia. Melihat situasi yang penuh kontroversi mengenai panjat pinang, tentunya tidak menjadikan tradisi ini tersingkirkan begitu saja di kalangan masyarakat Indonesia, namun tetap dijadikan sebagai salah satu tradisi unik yang negara lain belum tentu memilikinya. 



Referensi         :
Dewi, Annisa. (2013). Panjat Pinang. [Online]. Tersedia: http://www.kidnesia.com/Kidnesia/Potret-Negeriku/Warisan-Nusantara/Panjat-Pinang#.UcAPO7FTcR8.facebook. [10 Agustus 2013].
Nugum. (2011).  Sejarah Panjat Pinang. [Online]. Tersedia: http://nugum.blogspot.com/2011/04/sejarah-panjat-pinang.html. [10 Agustus 2013].
Wikipedia. (2013). Panjat Pinang. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Panjat_pinang. [10 Agustus 2013].

Etnis Cina dalam Budaya Masyarakat Indonesia


ETNIS CINA DALAM BUDAYA MASYARAKAT INDONESIA
Oleh
Divi Anggraeni

          Indonesia merupakan negara kepulauan dengan ragam suku bangsa, ras, budaya dan bahasa yang dimilikinya. Keragamannya menjadi daya tarik tersendiri bagi negara asing untuk dapat mengunjungi, bahkan menguasai Indonesia. Beberapa negara Eropa pernah menduduki Indonesia guna melakukan perdagangan hingga akhirnya mengambil sumber daya yang ada. Tidak hanya bangsa Eropa yang turut datang ke Indonesia, akan tetapi Cina juga menjalin hubungan perdagangan dengan Indonesia hingga akhirnya banyak etnis Cina yang tinggal di Indonesia.
Kehadiran etnis Cina di Indonesia tidak hadir begitu saja, terdapat sejarah yang mencatat bagaimana etnis Cina tersebut masuk ke Indonesia hingga akhirnya tinggal di Indonesia. Sejarah akan mengandung arti bila peristiwa masa lampau atau faktanya diberi cerita dan ceritanya haruslah disusun dengan persyaratan ilmiah (Hugiono dan Poerwantana, 1992: 2). Asal muasal minoritas etnis Cina dimulai jauh sebelum kedatangan Belanda ke Indonesia masa itu. Negara Belanda dan Cina merupakan negara pedagang dan datang ke Indonesia untuk satu tujuan, yakni berdagang. Datangnya etnis Cina ke kepulauan Indonesia tidak dilakukan secara kolektif, namun ada yang datangnya perorangan dan hanya kelompok kecil seperti yang terjadi di Pulau Jawa, mereka tiba sebelum kedatangan bangsa Eropa. Semenjak itu sebagian besar kaum imigran ini menyatu dengan masyarakat lokal di Jawa. Sedangkan, di Kalimantan Barat dan Pesisir Timur Sumatera, masyarakat etnis Cina bermigrasi dalam kelompok yang besar guna bekerja di perkebunan.
Peran mereka beberapa kali muncul dalam sejarah Indonesia, bahkan sebelum Republik Indonesia ini merdeka. Berbagai catatan dari Cina menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara masa itu, telah memiliki hubungan yang erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina (Wikipedia, 2008). Faktor inilah yang kemudian  menyuburkan jalur perdagangan dari Cina ke Nusantara maupun sebaliknya. Namun, setelah negara Indonesia merdeka, etnis Cina yang berkewarganegaraan Indonesia digolongkan sebagai salah satu suku dalam lingkup nasional Indonesia, sesuai dengan Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.
Berbagai kekerasan ternyata telah dihempaskan terhadap penduduk etnis Cina, hingga peristiwa pembantaian dan pembakaran rumah mereka pun terjadi di Batavia untuk yang pertama kalinya oleh orang-orang Belanda. Lalu, pertanyaan selanjutnya, kenapa orang Indonesia tidak mau berbaur dengan warga etnis Cina? Ketegangan-ketegangan seperti ini ternyata diakibatkan oeh unsur-unsur sosial-ekonomi (Lubis, 1992: 130). Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, karena banyak kerusuhan yang ditimbulkan oleh Belanda terhadap etnis Cina mengakibatkan mereka melakukan berbagai pemberontakan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Belanda, maka Belanda pun memberikan hak-hak istimewa, bahkan kemudian mereka dianggap sebagai penduduk Timur Asing yang dianggap setingkat lebih tinggi dari warga penduduk asli (Wikipedia, 2012). Status istimewa itu ternyata mengakibatkan pandangan yang buruk dari penduduk pribumi terhadap etnis Cina.
Dahulu, Belanda mempergunakan para perantau Cina tersebut untuk membendung penduduk pribumi dalam mengembangkan kekuatan ekonomi mereka. Selain itu ketika Raffles tiba di Jawa pun, ia menjadikan etnis Cina sebagai pemungut pajak, pemborong pemegang pajak gadai, dan yang menjadi korbannya adalah orang pribumi. Dalam proses ini, golongan Cina mampu mengembangkan diri memegang kekuatan ekonomi yang ampuh, dan segala cita-cita pembauran menjadi makin sirna, karena juga telah menjadi sifat manusia bahwa yang kaya tidak tertarik untuk berabur dengan yang miskin. Maka dari itu, timbulah kecemburuan sosial dari orang pribumi terhadap keberhasilan etnis Cina dalam bidang ekonomi. Ditambah sejarah mencatat bahwa etnis Cina pun pernah menjadi anak emasnya bangsa Belanda dalam kegiatan perekonomian. Hal ini semakin membuat orang pribumi membenci dan enggan untuk berbaur dengan etnis Cina. Sebenarnya rasa akan iri hati, rasa tidak puas, rasa amarah, kesal dan kebencian terhadap golongan Cina karena mereka lebih kaya dan melalui uang mereka dapat berbuat semaunya, hanya akan hilang jika orang pribumi dapat diberi peluang dan fasilitas untuk mengembangkan kekuatan ekonomi mereka. Tidak adanya upaya dari golongan Cina juga menjadikan sulitnya bersatu diantara mereka. Misalnya saja tidak terlihat atau munculnya tokoh yang dianggap sebagai pemimpin golongan mereka, untuk tampil ke depan dan berbaur dengan orang Indonesia.
Dari masalah ini, tentu saja harus ada solusi untuk membebaskan diskriminasi antar etnis dan budaya ini. Keunggulan di bidang ekonomi yang berakibat pada keunggulan untuk menghimpun kekayaan memposisikan mereka berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan warga pribumi dalam status sosial masyarakat Indonesia. Kondisi itu memposisikan etnis Cina merupakan golongan yang eksklusif. Agar persoalan etnis ini dapat terjalin dengan baik, selayaknya penyebutan warga negara pribumi dan non-pribumi dihilangkan. Istilah seperti itu, secara tidak langsung telah menciptakan label tersendiri dengan segala konsekuensinya. Hal yang perlu ditanamkan pada masyarakat Indonesia melalui media pendidikan bahwa Indonesia itu multi etnik, multi agama, multi adat istiadat di mana perlu hidup berdampingan agar dapat membangun Indonesia yang kuat.
Kemudian, pemerintah sudah waktunya menghilangkan diskriminasi diantara etnik-etnik yang ada di Indonesia ini. Sebab pendiskriminasian seperti yang dialami oleh etnis Cina selama ini akan sulit menghilangkan perbedaan. Karena, dengan adanya pendiskriminasian sekaligus menunjukkan adanya perbedaan (Siburian, 2010). Oleh karena itu, warga etnis Cina pun tidak menganggapnya sebagai etnis yang paling unggul yang dapat menciptakan sentimen keetnisan. Selain itu, intropeksi ke dalam perlu juga dilakukan oleh etnis Cina itu sendiri. Karena, melihat etnis Cina sudah lama bermukim di Indonesia ini, tampaknya adaptasi yang dilakukan selama ini masih belum berhasil mengingat setiap terjadinya kerusuhan tidak jarang melibatkan etnis Cina selaku pihak yang dirugikan. Oleh karena itu, alternatif dari strategi adaptasi yang dilakukan selama ini perlu dicari dan dimunculkan.


DAFTAR PUSTAKA

Hugiono, dan Poerwantana. 1992. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Lubis, Mochtar. 1992. Budaya, Masyarakat dan Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.
Siburian, Robert. 2010. Etnis Cina di Indonesia Fakta Komunikasi Antar Budaya. [Online]. Tersedia: http://pensa-sb.info/wp-content/uploads/2010/11/Etnis-Cina-di-Indonesia.pdf.  [17 Agustus 2013].
Wikipedia. 2008. Tionghoa-Indonesia. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia. [15 Agustus 2013].
Wikipedia. 2012. Penggunaan Istilah Cina, China dan Tiongkok. [Online]. Tersedia:http://id.wikipedia.org/wiki/Penggunaan_istilah_Cina,_China,_dan_Tiongkok. [17 Agustus 2013].