Jumat, 13 Juni 2014


DI BATAS LANGIT PASUNDAN (3078 Mdpl)

Karya: Indra Agung.N (Abang gue)

            Hari ini tanggal 8 agustus 2013, tepatnya hari kamis seperti rutinitas biasa menjelang satu minggu keberangkatan menuju gunung ciremai kami telah menyiapkan segala sesuatu yang harus dan wajib dibawa, bukan hanya masalah pendakian tapi kali ini saya membawa 4 orang wanita alias pendaki srikandi, dan salah satunya adalah do’i. Sebelum lanjut ke cerita perkenalkan dulu, nama gue indra agung noer sukma bin udin muhyidin, akrab dipanggil kang indra, supel, biasa aja, penampilan urakan, idealis, dll itulah saya tapi jiwa saya jiwa alam dan enjang bunyamin adalah teman seperjuangan dan sependakian.
            Siang itu gak sengaja kita ngobrol-ngobrol masalah hari kemerdekaan yang jatuh pada  tanggal 17 agustus tepatnya hari sabtu tahun 2013, seperti biasanya tanggal 17 agustus menjadi tanggal yang amat sangat sakral bagi orang-orang yang cinta tanah airnya, biasanya merayakan dengan lomba dan parade, tapi beda dengan saya rutinitas 17 agustus kali ini di niatkan untuk mengharggai jasa-jasa pahlawan dan mengibarkan panji-panji kebanggan sang sakala merah putih dengan cara mengecup cadas tertinggi Jawa Barat 3.078 Mdpl, saya dan rekan saya enjang bermaksud mendaki berdua pada hari kamis taggal 15-17 agustus, kita merencanakan sangat matang sehingga didapat keputusan “kita mendaki”. Waktu itu do’i yang duduk gak jauh dari tempat kita ngobrol entah sengaja atau gak sengaja ikut nimbrung dan nimpain ceritanya, do’i juga anak pecinta alam di SMA yang saya rintis dari awal sampe sekarang dan entah sampai kapan akan benar-benar pensiun. Ia bermaksud ikut dalam pendakian merah putih ini, sontak respon saya tak mengizinin dia untuk naik bersama kami, dikarenakan kita mendaki gunung ciremai dengan jalur setannya yaitu jalur cibunar, “ gak, gak boleh ikut bahaya” itu kata saya segelintir yang buat dia berhenti ngomong. Dia juga keliatan BT dan jutek ngedenger ucapan yang singkat tapi jelas itu. “tapi aku pengen ikut naik jalur itu, aku gak pernah ngeluh waktu pendakian-pendakian sebelumnya, iya kan?” jawabnya. saya sempet mikir agak lama sampe waktu gak kerasa udah jam 15.00 WIB, tega gak tega ngeliat dia murung gak karuan “it’s oke km boleh ikut tapi persiapan harus lebih matang dari pendakian-pendakian sebelumnya” respon ku.
            H-3 sebelum pendakian, saya sms  do’i, nyuruh buat mempersiapan pendakian, mulai dari carriel yang ideal, matras, SB, dll, jujur kalau masalah pendakian gunung saya lebih sering bawel, rewel dari biasanya, soalnya ini menyangkut nyawa saya, juga rekan-rekan. gak di sangka do’i ngajak 3 temennya yang belum terbiasa buat muncak bareng tanpa seizin dan sepengetahuan saya, terlebih mereka semua wanita, sontak saya kaget, syok, dan agak sedikit pesimis, kira-kira mampu gak ya bawa cewek sebanyak itu. satu hari sebelum pemberangkatan dimulai seperti pendakian-pendakian sebelumnya kita tehnikalmeeting dahulu membicarakan kesiapan, dan persiapan. 2 jam pembicaraan dan pembahasan tentang agenda pendakian summit merah putih, saya dan enjang bersamaan membahas poin-poin penting pendakian, selang  5 menit kemudia ada 3 orang wanita yang ikut dalam diskusi ini, yaitu yuli, norma dan cista mereka adalah rekan-rekan cintiya,. Melihat dari perawakan mereka, kami berdua sempat GALAU apakan mereka bisa mencapai puncak ciremai, perkenalan pun di mulai dari do’i yang bernama cintiya, enjang bunyamin, yuli, cista dan norma, kita saling membicarakan  tentang pengalaman pendakian dari setiap masing-masing individu dan alhamdulilah mereka semua masih perawan dalam artian belumpernah menjamah gunung, terkecuali cintiya,.
“kalian harus ekstra tenaga untuk pendakian kali ini yang pertama kali untuk kalian, karena alam bisa jadi teman sekaligus lawan yang harus di hadapi” kata ku sambil memandang kearah cista, norma dan yuli. Respon mereka pun cukup baik hanya mengaguk, entah paham atau tidak, esoklah hari-hari yang akan mereka alami dan mungkin menjadi pengalaman terindah yang takkan terlupakan sepanjang hidup mereka. “kang indra saya mau tanya apakah ciremai seganas itu untuk para pemula” tanya yuli yang bimbang dengan pendakian esok hari, “semua gunung adalah sahabat tergantung niat dan tegad kita untuk mendaki, persiapan, pengalaman dan pengetahuan yang membuat kita akan bertahan hidup, jadi apa yang harus di bawa wajib kalian bawa” ulas ku menimpa pertanyan bagus dari yuli, saat bersamaan tak di sengaja saya liat mimik muka antara enjang dan norma, mereka sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama, terlihat dari gelagat enjang yang selalu memandang penuh perasan kepada norma, begitu juga sebaliknya.
             Tanggal 15 agustus 2013 pukul 06.00 WIB semua perlengkapan sudah siap kita ber 6 menuju pos pendaftaran yang terletak 2,5 km dari jalan provinsi kecamatan cilimus, enjang mendaftarkan kita ber 6 satuhari sebelum pendakian dimulai, kami meminta izin dari penjaga pos pendakian cibunar, wajah-wajah bersemangat terlihat dari setiap senyum sang pendaki yang akan mengiringi jejak langkahnya, waktu menunjukan pukul 07.00 Wib, kami bergegas berangkat menuju pos pertama yaitu cibunar dari sini jalur cibunar masih jalanan aspal tapi tanjakan vila iwan fals yang berada tepat di depan mata kami, membaut fisik mulai kendor 30 menit perjalanan menuju cibunar terselesaikan, terlihat wajah-wajah letih tapi tetap mengobarkan semangat 45, di pos cibunar kita mengisi persediaan air, karena disini adalah pos pertama dan pos terakhir yang masih menyimpan candangan air yang melimpah, kami ber-enam memutuskan sarapan terlebih dahulu, sebelum menuju pos ke II leweung datar, “kang aku dateng bulan waktu tadi malam, aku masih bisa lanjut kan?” tanya cintiya, sempat merasa kesal juga kenapa baru sekarang dia ngomongnya, bukannya tak boleh untuk pendakian saat lagi haid tapi fisik akan semakin kendor, cepat lemas, ditambah sakit perut yang amat sangat, “iya bisa lanjut tapi resiko di tanggung ya, yang ngerasinkan kamu buakan aku, tapi tetep aku akan dampingi kamu sampe ke puncak nanti, janji seorang pecinta alam sejati dan seberat apapun resikonya pria sejati akan tetap bertanggung jawab kepada apa yang ia yakini, keyakinan itu adalah membawa kamu sampai atap langit jawabarat” ia pun tersenyum optimis mendengar kata-kata yang telontarkan tadi,. Dengan membawa carriel 80 litter kami memulai pendakian yang sebenarnya, melihat hutan cemara dan hamparan ilalang yang indah menjadi pemacu semangat kami berenam, enjang yang menjadi penunjuk arah sedangkan saya di belakang sebagai penyapu dan sebagai motivator rekan-rekan dalam pendakian,. matahari mulai terik saat kita berenam melewati tanjakan ilalang, keringat yang mengujur dari setiap pori-pori kulit mulai membasahi baju yang kami pakai,.
tepat jam 8.00 Wib sampai di pos ke II yaitu lewung datar atau arti kata dalam bahasa indonesia adalah hutan datar, dari semua pos pendakian hanya leuweung datar yang paling berbonus track datar, kita ber istirahat kurang lebih 15 menit hanya untuk meneguk setetes air yang harus kami hemat, setiap orang membawa 5 litter air kecuali norma hanya membawa 3 litter air, 5 litter air harga mati untuk jalur pendakian cibunar ini dikarenakan tak ada sumber mata air yang lain, kecuali di pos kondangamis itu juga harus berjalan melewati tebing berakar dengan menempuh waktu ±1-2 jam perjalanan di luar jalur pendakian. Di pos ini kita di sugguhkan nuansa hutan homogen yang lumayan menyejukan mata. Sambil merebahkan diri yang sudah lumayan letih di atas tanah gambutnya, terdengar suara burung dan sedikit helaan nafas, terpandang sekejap enjang menyekatkan keringat norma, “cie, cie, cie romantisnya” celetuk keisengan dari cista, dengan sigap enjang menurunkan tangan nya dari kening sang pujaan, entah apa yang saya pikirkan tapi pendakian ini lebih condong menjodohkan mereka.
perjalanan kami lanjutkan dengan bergegas kami memasuki hutan condangamis, dalam perjalanan yang tak biasa ini, sangat khawatir melihat cintiya berjalan tertatih tapi ia bukan tipe cewek yang manja, walau pun berada di jajaran paling belakang, melihat cista tak enak dengan keadaan carreilnya, enjang dengan sigap menghampiri dan membenahi susunan barang bawaannya yang terlihat tidak nyaman itu, tak lama dalam perjanalanan kami telah sampai di pos ke III yaitu kondangamis, disana kami di sambut para pendaki lain dan meminta kita mampir untuk sekedar istirahat, 5 menit waktu yang dibutuhkan untuk kami istirahat, track panjang dan lumayan naik ada di depan mata, “kita sekarang menuju pos kuburan kuda siapkan pijakan kaki kalian agar tidak tergelincir” kata enjang sambil mengenakan carreilnya. Perjalanan menuju pos kuburan kuda lebih sulit dari pos-pos sebelumnya karena banyak tanjakan kecil yang lumayan menguras tenaga, 1 jam kami tempuh untuk menuju pos kuburan kuda, disana kami bertemu pendaki dari indramayu, melihat persiapn mereka yang sangat kurang dan seadanya membuat saya sedikit miris dibuatnya, selang beberapa waktu kami beristirahat, jam menunjukan pukul 11.30 Wib, kami bergegas mengenakan ransel dengan tetap bersamaan mendaki, baru sekali melangkah tanjakan terjal dibumbui akar menjulang didepan mata dan kening kami, semua srikandi yang memandangnya dibuat tercengang, langkah demi langkah terus menanjak empat lima langkah kami berhenti karena dengkul kami berenam serasa akan copot dari persendiannya, sekarang yang menjadi lider yaitu cintiya, semangat yang membara seolah tak biasa terbendung oleh ganasnya tanjakan didepannya, diikuti yuli yang hanya membawa cerril berkapasitas 45 litter, sedangkan enjang dan saya tertatih dibelakang mendampingi cista yang keletihan, disitu saya dan enjang sepakat membawa sebagian air yang dibawa cista enjang 1,5 litter dan saya 1,5 litter agar perjalanan cista tak tersendat di jalur ini.
Jam 13.30 kami sampai di pos ke V yaitu pangalap, kami beristirahat untuk sekedar shalat dzuhur yang terlewat saat perjalanan, di sini kami melakukan rutinitas yang wajib yaitu foto-foto, enjang yang biasanya paling banyak di sorot kamera sekarang bergantian menjadi fotografer dadakan, makanan ringan seperti coklat, roti dan snack kami buka sebagai pengganjal sementara perut, “sesudah pangalap akan ada 2 tanjakan gila yaitu tanjakan seruni dan yang ekstra putu asa yaitu tanjakan bapa tere, “kalian harus berhati-hati jangan sampai salah pijakan, dan jangan pernah munafik untuk minta istirahat” kata ku kepada rekan-rekan yang tengah bersantai, “emang segitu parahnya ya kang tanjakannya” tanya norma, membuat semua menjadi hening seketika, “kita coba saja dulu, kita pasti bisa melewati apapun bila bersamaan” jawab enjang menimpa pertanyaan dari calon pacarnya itu, perjalanan kami lanjutkan tepat jan 14.00 jalur mulai menunjukan aura pemutus asa, kita bagi jadi dua grup, yang pertama saya, yuli dan cintiya, dan grup kedua enjang, norma dan cista, walaupun kami di pecah menjadi dua, tapi tetap kita berangkat dan bergerak bersamaan, dengan selang jarak 20 meter atau kun waktu 10menit.
            Tanjakan gila berubah menjadi tebing kecil yang mempesona, seperti berjalan di sebuah lorong dengan sudut 80° dan dengan pijakan tertatih pada jalur yang sangat ekstrem, saya berada paling depan di antara cintiya dan yuli, tapi tetap sesekali menengok kebelakang memastikan yuli dan cintiya berada dekat dengan saya, “aduh kambuh nih, perut sakit banget gak bisa ditahan lagi” ujar cintiya bergumam kecil, “okeh kita break dulu, kaki luruskan jangan sampai ditekuk, nanti kalian bisa keram” ujar ku kepada mereka yang tepat berada beberapa meter dibawah, hentakan nafas, kaki yang mulai bergetar udara yang mulai tipis menemani setiap langkah yang tertatih ini, di tanjakan seruni memang tanjakan yang lumayan panjang dari pos pangalap, kami melajutkan perjalanan dan sampai di tikungan ke 5 terlihat dari bawah, pelat kuning bertuliskan tanjakan bapa tere atau tanjakan bapa tiri, silsilahnya tanjakan ini di ambil karena kejamnya medan dan jalur yang harus di lalui, tak tanggung ini bukan tanjakan melainkan tebing  dengan sudut kemiringan hampir 90°, kami memutuskan menunggu grup enjang yang berada di belakang “kang indra apa gak ada jalur lain selain ini?” tanya yuli menengadahkan kepalanya ke atas dengan mimik muka yang kosong, saya pun tertawa dibuatnya “yuli, yuli inilah gunung, inilah petualangan, dan inilah indahnya penderitaan ya ini adalah seninya mendaki, jangan pernah menganggap yang sulit akan menyulitkan tapi anggaplah yang sulit kita lalui adalah ke indahan yang orang lain mungkin belum pernah memandangnya apalagi mencoba melewatinya bahkan memikirkannya, senyumlah dan nikmati tanjakan paling langka ini” ujar ku sambil tersenyum memotivasi yuli, 10 menit berselang enjang, norma dan cista mencoba berteriak memanggil nama ku, sekedar memastikan mereka berada dekat dengan ku, “indra,... indra...” teriak enjang merobek ketenangan di hutan ciremai, “woyyyy... ini sudah sampe pos bapa tere..” saut ku menjawab teriakan dari enjang,. Kami kembali ke grup awal mencoba beristirahat cukup lama sampai waktu menunjukan pukul 16.00Wib, “kang kita mau ngecamp dimana” ujar cista yang mulai keletiah sesaat setelah melewati tanjakan seruni, “kita ngecamp di sanggabuana I atau sanggabuana II tergantung waktunya, kalau jam di tangan ini menunjukan waktu 18.00 kita brhenti dan ngcamp di pos yang kita lalui atau pos bayangan” jawab enjang memotong pembicaraan kami.
            Kami semua mulai mempersiapkan uji mental dan fisik tanjakan panjang dan curamsekarang berada tepat didepan kami, tangan mulai mendominasi dalam perjalanan ini akarlah yang menjadi penolong saat kaki tak mampu mengangkat beban tubuh ditambah carreil yang di bawa, lantuna bismilah keluar dari masing-masing mulit sesaat melangkahkan pijakan pertama, saya berada paling depan sekarang mencari akar dan pijakan yang kuat untuk nantinya di ikuti oleh srikandi-srikandi muda yang gagah, satu hentakan nafas satu langkah menanjak dan menggengam akar-akar pohon yang keluar dari balik keras dan licinnya tanah coklat ciremai, walaupun saya dan enjang sudah terbiasa melewati jalur ini, tapi tetap fisik dan mental kami yang harus kami pakai untuk melewatinya. “breeeeaaakk” teriak srikandi paling belakang, istirahat cukup 1-2 menit saja agar langkah berikutnya tak kembali goyah, sesaat sampai dipos bayangan kita berhenti 15 menit waktu menunjukan pukul 17.15 Wib, melihat rekan-rekan yang sudah terlampau letih saya putuskan untuk berkemah di pos batulingga pos ke 7 dikarenakan waktu untuk menempuh pos 8 dan 9 yang di sebut sangga buana masih berada jauh dari pos bayangan bapa tere ini, enjang, cista, norma dan yuli mereka bergegas mengenakan carreilnya lagi, sedangkan cintiya masih duduk bersandarkan pohon dengan mata terpejap, “jang kamu bawa rekan-rekan dan melanjutkan perjalanan, saya dan cintiya akan menyusul” ujar ku menitipkan rekan-rekan yang lain kepada nya, “oke siap mas broo” timpa enjang sekenanya. Melihat cintiya yang amat kelelahan saya diam-diam membuka carreil miliknya dan mengambil satu botol air berisi 1,5liter dan menempatkannya di carreil saya yang sudah di persiapkan sebelumnya, “kaka lanjut lagi yuk, temen-temen yang lain sudah pada jauh” ucap cintiya yang masih menikmati istirahatnya sambil tetap memejamkan matanya, kami berdua bergegas berjalan menyusul enjang dan srikandi yang lainnya, tak lama kita berjalan cintiya meminta break karena perutnya mulai terasa sakit yang amat sangat, “kaka aku sudah tidak kuat lagi melakukan perjalanan ini, rasanya semua persendian akan copot dari pangkalnya, badan ku mulai dinggin juga ka” kata cintiya yang terlihat prustasi, “hay... terkadang kamu tahu bahwa kamu mampu melewati semua ini dengan kesendirian, tapi sekarang ada aku yang akan mendampingi kamu, tak ada yang lebih kuat dari kamu selain semangat kamu sendiri, kenapa 2 hari yang lalu kaka kasih lonceng ini, lonceng yang sama dengan punya kaka,? Setiap satu langkah pasti lonceng yang tergantung di carriel kamu akan berdering, satu derinagn lonceng itu adalah satu perkataan semangat buat kamu, kamu pasti bisa percaya ya sayang aku akan selalu ada di dekatmu”, motifasi ku terhadap ia yang sangat aku sayangi, kita berdua melanjutkan perjalanannya lagi waktu sudah menunjukan 17.35 Wib suasana mulai gelap saya menurunkan carreil dan mengambil hadline, agar nati saat gelap gulita datang kita sudah siap dalam posisi, ±150 meter kita berjalan tiba-tiba kmbali cintiya meminta untuk beristirahat, terlihat nafasnya terengah-engah, kakinya bergetar hebat, airmata yang belum pernah aku lihat selama ini keluar dari dua sudut matanya, sambil duduk di tanah yang dingin dan beku beralaskan rumput dan akar yang tak beraturan ia menangis dan menyesali apa yang ia lakukan “aku gak akan pernah mau lagi naik gunung saat keadaan haid seperti ini, rasanya lemes banget, gak sanggup melangkah lagi, badan mulai mendingin” ucap cintiya yang tak tahan dengan jalur dari bapa tere menuju pos batulingga, sesaat setelah mendengar apa yang ia katakan saya menyesal membawa nya ke pendakian ini bukan menyesal karena ia mengeluh tapi menyesali tindakan bodoh saya yang tetap mengizinkannya, itu namanya membunuhnya secara perlahan, membunuh orang yang saya sayangi, “cintiya apa pun yang kamu rasakan aku juga turut merasakannya, kamu sabar ya pos batu lingga sebentar lagi nanti kita istirahat total di sana aku bakal membawa dan menjaga kamu smpai ke puncak .” Sambil menghapus setiap tetes air mata yang keluar dari sudut matanya, bergegas aku mengenakan carreil ku dan membawa carriel cintiya yang tergeletak di depan ku “kaka aku masih kuat ko membawa carriel ku, kata kamu carriel adalah tanggung jawab setiap individu yang membawanya baik ia mati atau hidup” ungkapnya menahan langkahku yang kini membawa 2 carreil sekaligus, “bukan hanya bahagia atau tawa, tetapi derita dan air mata juga bagian dari perjuangan, kamu percaya aku pasti kuat bawa dua carriel ini sekaligus, kamu jalan duluan ya kaka di belakang kamu” jawabku sambil mengusap air mata dan membelai halus rambutnya, meyakinkannya bahwa aku bisa melakukannya, sebelumnya belum pernah sekali pun aku naik dengan dua carriel besar sekaligus, saya selalu bertanggung jawab atas apa yang saya yakini keyakinan itu cinta dan kasih sayang yang tulus dari orang yang palingh kita cintai.
            Perjalanan mulai terasa dua kalilipat dari biasanya nafas saya mulai terengah-engah  hebat, langkah kaki baru 50 meter sudah goyah tak karuan, tapi dengan keyakinan semuanya akan menjadi lebih mudah walau pun tak segampang melakukannya, melihat orang yang kita sayang berjalan sangat anggunnya di depan mata menjadi motivator tersendiri untuk melangkah lebih jauh, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 18.05, kami belum juga sampai. Lagi-lagi cintiya meminta kami untuk beristirahat, dan saat itu juga ia kembali menangis, “kaka maaf’in aku ya udah  nyusain kamu, sampai bawa carreil aku segala” sambil meneteskan airmatanya,. “Wanita menangis bukan berarti ia cengeng kan? Tetapi ia lebih mempunya perasaan yang lebih lembut dari pria, dan apa bila pria menangis tangisannya itu suatu kejujuran, kamu jangan nangis lagi ya, air mata kamu keluar untuk hal yang mungkin tak sepantas nya kamu tangisin, kita jalan lagi ya tapi kita istirahat dulu 5 menit disini” ujarku menenangkan dia yang telah kehabisan semangat, tak jauh dari tempat kami ber istirahat terdengar suara gaduh dan teriakan yang tak asing aku dengar “indra... cintiya.. indra... cintiya...” terus berulang-ulang teriakan yang tak asing itu memecah keseunyian magrib di hutan belantara ciremai,. Kita berdua mulai berdiri dengan kuat dan melihat ke arah atas terpampang jelas plat kuning  tertempel di pohon besar yang bertanda itu adalah pos, “enjang....enjang... sadiakeun cai kopi” teriak ku mneggunakan bahasa sunda untuk penyemangat ke galauan di sunyinya dan dinginnya belantara. Cintiya pun bergegas berdiri dan berjalan di depan ku dengan wajah yang sedikit lebih bersemangat dari sebelumnya. Celaka bukan main saat berdiri kaki ku terasa keram, baru beberapa kali melangkah kaki kanan tersangkut di akar badan tak mampu seimbang menahan sakit kaki dan carriel yang berat dan tiba-tiba, srrrrrtttttt gbruuug aku terjatuh dalam posisi tengkurap dan kaki masih terikat akar yang kuat, menyebabkan kaki kanan tergantung diatas ku terkilir dan biru itu sudah pasti dalam pikirku, “kaka kamu kenapa?” tanya cintia yang berada 15 meter didepan ku, “gak apa-apa ko cuman licin aja jalannya, kamu jalan terus ya, kalau udah sampe buatin kaka kopi hitam okeh ?” ungkap ku untuk menutupi rasa khawatir cintiya, rasanya sakit sekali saat kaki mulai lagi di pijakan ketanah, mencari batuna tongkat pun jadi solusinya, tapi tak ada yang bisa aku raih selain ranting-ranting kecil, terus berjalan walau tertatih sedikit demi sedikit di temani cahaya lampu hadeline yang menempel di kening,.
            Malam yang dingin di batu lingga tepat pukul 18.50 Wib suasana di pos ini sangat mencekam di tambah terdapat memoriam nisan sahabat lama ku yaitu kasmi, seperti biasa sesampainya di batu lingga saya tak ingin melakukan apapun selain berdoa di bawah memoriam nisan kasmi, “kita yang gagah mampu berdiri dengan seribu impian dan sejuta usaha itulah hidup, jiwa yang hilang tetaplah hilang menjadi puing-puing memoriam mu, (alfatiha) untuk jiwa pemberani jiwa yang gugur di batas langit pasundan, cadas tertinggi jawabarat” kutaruh carreil yang megekang pundak dan menjatuhkan kedua tumit ku ditanah yang bergelombang, sambil memandang tulus nisan kasmi,  menengadahkan tangan  dan menundukan wajah serta menutup kedua mata dalam doa ku “asalamualaikun sahabat, kawan, rekan, sodara, dan orang gagah dengan sejuta cinta dan tawanya, aku datang menemui mu kawan, rasanya baru kemarin aku, engkau dan rekan-rekan lainnya mendaki gunung ini untuk yang pertama kalinya, sekarang aku datang membawa sepenggal doa yang tulus untuk mu (alfatiha), engkau kawan baik ku kawan akrab ku, terakhir kau buatkan secangkir coklat panas di bapa tere dan menyulutkan ku sebatang roko ber aroma oriental, sekarang kau sudah tiada bersama indah dan sunyinya alam ini, kawan... setiap hari ulang tahun mu aku selalu datang kesini membawakan sgenggam bunga mawar putih kesukaan mu, aku rindu dirimu yang ceria yang selalu menambah suasan baru di setiap pendakian, semoga engkau dapat tidur dengan damai, di temai rindangnya pohon akasia yang berada tepat di atas nisan memoriam mu, semoga Allah Swt memberikan tempat yang layak yaitu surga seperti surga puncak pertama kita di bumi pasundan ini, amin ya allah ya robal alamin selamat jalan kawan baik ku, aku mencintai mu seperti sahabat-sahabt ku yang gugur dalam pendakiannya”,. Selang beberapa menit dalam doaku cista memanggil dari balik tenda “kaka ini kopi kamu sudah jadi nanti keburu dingin” teriaknya yang memintaku beranjak dari tempat itu.
            Dinginnya malam semakin berlanjut aku menyuruh semua rekan-rekan untuk tidak memakai baju hangat, kupluk, dan sarungtangan terlebih dahulu, karena untuk penyesuaian suhu tubuh, bila kita mengenakannya sekarang,  yang ditakutkan jam 12 malam dan jam 2 pagi mereka terkena hipotermia karena dingin pada waktu tersebut akan mencapai titik klimaksnya, tepat jam 8 malam cuaca mulai menunjukan suhu 10°celcius semua rekan-rekan telah mengenakan jaketnya, sarungtangan, kupluk dan kaos kaki dobel, sedangkan waktu itu kabut yang sangat tebal turun ke pos batulingga, cahaya hadeline tak mampu menembus batas 10 meter hanya berjarak 3-5 meter saja, aku pastikan semua rekan-rekan ku sudah dalam keadaan berkumpul di dalam tenda doom yang kami bawa, sedangkan aku masih di luar tenda mengumpulkan kayu bakar, terdengar sayup-sayup angin yang sedikit aneh, entah itu imajinasi ku atau nyata yang pasti 2 kali sudah ada yang memanggil nama ku dari atas pohon akasia yang begitu tingginya, terlihat dari bawah pos yang kita tempati sorot lampu berwarna putih terpancar, seketika aku mengambil hadeline yang berada di kantong jaket, dan menyorotkan ke cahaya itu juga, ternyata rombongan pendaki lain dengan sigap aku pun meneriaki mereka “ pos...pos.. pos sebentar lagi ayo semangat kawan”, waktu menunjukan pukul 22.00 Wib gelisah di dalam tenda aku dan enjang berencana keluar tenda sekedar untuk merokok dan menyeduh kopi hitam yang kami inginkan, di situ kami mendapat suasana baru indahnya langit bertabur bintang seakan-akan kami berada dekat dengan langit pasundan, di temani suara satwa malam yang melengking indah dan hembusan angin dingin yang menyejukan diri ditambah pelukan suhu dingin dibawah 10° celsius, kami mulai bercengkrama dengan rekan-rekan pendaki lain diantaranya dari solo, ada mas memet, mas ali, andi, dan nama terunik yaitu ledeng (seperti nama penyedot air dalam sumur) untuk yang dari bogor, ada kang riyan, yanto dll, sedangkan dari cirebon ada emba yanti, mas usma, dan mas soleh, di langit malam 15 agustus itu kami bercengkrama saling menukar cerita tentang pendakian setengah gunung yang telah di lewati kami ini, ada yang ampun-ampuna saat melewati bapa tere, ada merayap seperti cicak saat naik di tanjakan seruni, semua tumpah ruah dalam suasana dingin tapi menghangatkan tali persaudaraan antar pencinta alam dan pendaki gunung selebihnya sebagai warga negara indonesia yang ingin mengibarkan panji-panji kemerdekaan di puncak ciremai “mas indra, enakan di gunung ya kalau nyari teman seperjuangan itu” ungkap memet kawan yang baru aku kenal dari solo, “iya mas memet, kalau digunung rasa persodaraan dan persamaan antar pendaki sederajat, tak memandang itu akan orang kaya atau miskin, pejabat atau kuli, semuanya sama di gunung tergantung rasa peduli terhadap lingkungannya, kalu cuman naik gungung aja semua orang pasti bisa yang membedakannya jiwa sosial saling membantu, semuanya kotor kalau di gunung presiden aja kalau naik gunung pasti kotor kecuali korban film 5cm semuanya pada bersih, bersih gak bawa sampah hahaha, malah di tinggal di gunung” jawab ku menyinggung film yang konsepnya pendakian itu,. kami pun tertawa bersamaan dengan api unggun di hadapan kita, jam 24.00Wib kita semua mulai istirahat total, hangatnya sleepingbag adalan anugrah untuk mimpi indah.
            Keesokan hari tanggal 16 agustus 2013, perjalanan kami lanjutkan waktu menunjukan pukul 07.00Wib sebelum pemberangkatan rombongan dari solo, bogor dan cirebon meminta bergabung bersama kami dalam pendakian merah putih ini, “mas wis gabung ake yu kabeh ne” kata mas andi sambil packing tenda dan carreil, “muhun kang urang gabung wae atuh sasarengan” timpa riyan pendaki dari bogor, “aduh-aduh ayo saja kita gabung bersama, bahasa kalian susah dimengerti harus ada penerjemah nih orang google translet jawa dan sunda menjadi bahasa indonesia yang baik dan benar” jawab ku sekenanya, kita lagi-lagi tertawa bersamaan sambil menikmati sunrise yang datang  dari balik pepohonan, “hayu kabeh ne urang mangan alias dahar alias sarapan, mangan iwak asin, dahar lauk asin hahahaahaha...” celetuk mas ali yang asli solo tapi mengerti dua bahasa, tak tahan mendengar celetukannya kami  lagi-lagi tertawa sambil menikmati mie instan di campur sarden istimewa buatan para srikandi sunda-jawa-betawi.
            Kaki yang terkilir kemarin masih terasa sakit yang lumayan, sengaja aku sembunyikan raut wajah ku yang menandakan aku sedang tersiksa, semuanya berjalan beriringan, tapi kelompok srikandi yang ku bawa adalah kelompok yang pertama berangkat sedangkan kelompok dari solo, bogor dan cirebon menyusul di belakang, perjalanan tinggal beberapa kilometer lagi dan masih 4-5jam lagi, kita tinggal melewati sanggabuana I, sanggabuana II dan pos terakhir sebelum puncak yang menjadi tujuan peristirahatan kami yaitu pos pangasinan atau pangasingan. Track lumayan sanga-sangat terjal tapi stamina di pagi hari sudah terkumpul kembali kami menempuh sanggabuana I dan sanggabuana II hanya dengan dua setengah jam, lumayan cepat dari perkiraan yang akan memakan waktu 3- 4 jam, kami beristirahat sejenak di sanggabuana II sambil menikmati kesejukan dan keindahan ciptaan Allah Swt, bergegas saya menuju pojokan pos tersebut dengan membawa botol pelastik kosong, “kang indra mau kemana?” tanya yuli dan norma bersamaan, “ini mau ngambil air dipojok, siapa tau aja masih ada sisa air rebesan akar, lumayan buat kita minum kopi, persediaan kita masih bnyk juga, tp tetap harus di hemat-hemat”. Ungkap ku menjawab pertanyaan mereka berdua.
            Jalur menanjak dan panas akan kita lalui dari sanggabuana II menuju pangasinan jalannya berbatu dan berpasir pohon-pohon tinggi sudah tak ada yang terlihat hanta pepohonan kecil jadi kami sepakat menggunakan masker dan jarak kita saat mendaki tak terlalu dekat, “hati-hati ya jangan menginjak terlalu kencang batunya nanti bisa mnggelinding kebawah lalu perhatikan jalur juga, jangan asal memegang ranting pohon, karena pohonnya sudah mulai lapuk perhatkikan juga keseimbangan jurang disebelah kanan dan kiri siap menelan kita” sahut enjang mengingatkan para srikandi, track kali ini beda dengan yang lain, karena kita memutuskan perjalanan siang agar bisa mendapat ruang untuk mendirikan tenda, tapi resikonya yaitu panas yang amat sangat tidak di pungkiri semakin tinggi ketinggiannya semakin kecil pula tanaman yang hidup dalam ketinggian diatas 2800Mdpl jadi tak ada tempat bernaung untuk kita beristirahat dari lelah dan panasnya mentari yang waktu itu menyorot tepat di ubun-ubun  waktu mulai menunjukan pukul 11.00 Wib, kami beristirahat di selter kecil atau pos bayangan melihat ke arah kaki dan membuka geitters(pelindung sepatu/kaki) warna kaki kanan ku berubah menjadi unggu dari tadinya biru, sakit tak tertahan saya putuskan untuk beristirahat cukuplama, dan meminta enjang membawa rekan-rekan yang lain naik terlebih dahulu ke pangasinan, “kaka kamu kenapa, ayo cepet kata ka enjang kita udah mau sampai” ujar cintiya yang sedari tadi memperhatiakan keadaanku, tapi ia belum tahu aku sedang merasakan penderitaan  yang sangat, 20 menit berselang tinggal aku sendiri sedangkan rekan-rekan yang lain entah sudah dimana, menikmati rasa sakit berbonus samudra awan di arah timur, langit biru tanpa noda, udara panas tapi menyejukan paru-paru yang tercemar poulsi kota, indahnya hidup dalam kesendirian, suara burung anis karang menjadi pelengkap keindahan alam indonesia ini, saya sungguh-sungguh bangga jadi penghuninya. Tak lama aku menikmati semuanya, awan putih turun, mengecup kening dan pipiku seolah berkata : “hai kawan, liatlah luka mu, dan bandingkan dengan jarak mu memlangkahkan kaki, kau terlalu tangguh untuk ku lukai,  gunung pun meminta maaf kepadamu atas tindakannya kemarin, kau adalah pecinta alam yang melindungi kami dari primata-primata jahat sejenis mu(manusia) kau berbeda dengan primata sejenis mu, jiwa mu kokoh untuk melindungi satu pohon atau bahkan jutaan pohon,aku mencintai mu begitu juga alam indonesia yang menyayangi mu kuatkanlah pijakaan mu, bawalah rekan-rekan mu menemui sang putra fajar (sunrish) agar rekan-rekan sejenis mu bisa menikmati indahnya alam ini, indahnya ciptaan Allah yang mungkin orang lain belum pernah melihatnya, ku kecup kening mu sebagai tanda kasih sayang atas prjuangan mu kepada alam melawan segalanya, dan ku kecup kedua pipi mu sebagai tanda penjagaan mu kepada lingkungan , dan ku peluk diri mu sebagai tanda kita sahabat samapai liang lahat, buktikanlah kau mampu mengibarkan panji-panji kemerdekaan atas penindasan kami, terimakasih sahabat berjalanlah perlahan aku akan mendampingi mu” sejenak ku terpejam ketika perkataan itu terngiang dan tersiarat dalam hati dan benak, kembali ku mengenakan carriel sambil menghirup udara dalam-dalam  tanpa tercemar sambil berkata bismilahirohmanirohim, langkah tegap tapi tetatih dibantu tongkat dari kayu yang kudapat saat beristirahat, langkah kaki tak bisa terbendung memandang terus ke atas tanpa menengok ke bawah, inilah petualangan ku petualangan untuk membebaskan alam dari jajahan manusia, langkah yang memamerkan aku cinta indonesia, tak berselang lama hamparan taman edelwise terlihat dikanan dan kiri tempat ku melangkah indah dan wanginya semerbak  menjadikan semangat  menjadi api pembakar kemunafikan, pertanda pangasinagn sudah tinggal menghitung langkah, dan.... benar saja pangasina ku pijak dengan kaki kanan  tanda aku menghormati perjuangan kami selama ini, rekan-rekan yang lain telah menunggu dan sampailah kita di pangasingan, pos terakhir sebelum puncak, dahaga tak bisa di tutupi, ku ambil sebotol air mineral yang meggantung di cerril dan menenggak sedikit demi sedikit air jernih khas cibunar.
            ditangan terbogol sebuah jam yang menunjukan pukul 12.00Wib kami sepakat mendirikan tenda agar nantinya kita bisa beristirahat dengan nikmat didalamnya, tak lama semua pendaki sampai di pos pangasinan tempat kami berada, sambil membantu menyemangati pendaki-pendaki lain “euuuuuuyyy, pangasinan ayo semanagt teman-teman pangasinan” teriak ku dari atas awan memotivasi teman-teman dari solo, bogor, cirebon dan semua pendaki gunung dari indonesia. Kami benar-benar dimanjakan di pangasinan ini, langit diatas kepala biru tak berawan sedikit pun, dihadapan  terlihat lautan awan dekat sekali dengan kami, seperti kapas putih yang lembut ingin sekali meraihnya dan tenggelam didalamnya terlihat dari kejauhan 3 puncak gunung lainnya yaitu gunung selamet, dan sikembar gunung sindoro, gunung sumbing, sedangkan di belakang pundak kami terlihat kerucut puncak ciremai yang tinggal meraihnya saja dengan jarak tempuh 0,8 Mdpl/ 800meter lagi setara dengan 45-60 menit pendakian, kanan dan kiri terhampar jelas taman bunga edelwise yang sangat indah karena pada bulan agustus semuanya bersemi dan merekah bagai senyum bidadari disurga subhanallah, indahnya ciptaan Mu tak bisa orang lain membuatnya, hanya bisa menjaga, melestarikan dan menikmatinya berfoto bersama ciptaan tuhan memang membuat suatu kebanggaan tersendiri contohnya “kang tolong fotoin dong, samudra awannya bagus, lumayan untuk poto profil di FB” saut cista sambil memberikan kamera digitalnya kepada ku,.
            Matahari mulai malu dan bersembunyi tanda waktu petang telah tiba, setidaknya 23 tenda berada ditempat ini, kami mulai menggigil hebat, suhu di pos ini lebih rendah dari pos pertama kita mendirikan tenda, keluh kesah semua pendaki terdengar riuh, menandakan dinginnya menusuk sampai ke rongga-rongga tulang, hampir semua pendaki memasuki tenda masimg-masing doomnya, sedangkan saya masih diluar untuk memasak air untuk sekedar menyeduh kopi mokacino buatan bekasi, sesaat sedang menyalakan parafin dan menyiapkan air dalam nisting, saya sempat berbincang dengan seorang yang sudah mempunyai umur, sebut saja pak junaedi, ia mengikuti pendakian ini sendirian tapi ikut dengan rombongan penddaki dari kuningan “pak, mau kopinya?” tanya ku sopan sambil tersenyum, “oh iya kang, saya lapar saya numpang menyeduh mie instan, dan sarden boleh?” responnya sambil tersenyum baik kepada ku, “oh iya pak silahkan saja, pak junaedi kenapa masih mendaki gunung ? padahal umur yang berkepala tiga mestinya sudah pensiun” tanyaku agak sedikit memaksa ingin mengetahui jawaban darinya “kang indra seorang pecintaalam kan? Pasti tahu kenapa saya masih sering mendaki seperti ini, inilah indahnya hidup kang, kita bisa bersatu dengan alam menjalani hari di ibukota itu menjenuhkan saya butuh refresing sejenak dari kegiatan yang mengekang otak saya, satu kata untuk alam indonesia (indah)” kami terus bercengkrama satu sama lain dinginnya pangasingan sampai tak terasa membrkukan minyak untuk memasak, cintiya yang mendengar kami sedang mengobrol pun membuka resleting tenda “kaka didalem aja, diluar dingin, didalem aja aku kedinginan apalagi kamu ayo masuk” pinta cintiya yang meminta ku untuk masukkedalam tenda, “kang indra itu pacarnya ya?” ujar pak junaedi sambil menyantap mie kesukaannya, saya hanya tersenyum ke arah pak junaedi yang mungkin mengerti arti dari senyuman itu,. malam semakin larut banyak juga pendaki lain yang baru sampai di pos pangasinan, melihat selter penuh mereka beranjak mendaki lagi sekedar mencari tempat yang agak lapang untuk mendirikan tenda, tepat jam 8 malam, para srikandi yang baik hati ini mulai memasak, seperti pada umumnya sosis, mie, saden, kornet, dan sedikit bumbu dapur di sulap menjadi makanan yang Nikmaat “ayo masuk tenda, kak indra jangan ngroko terus makan dulu, kak enjang masuk dulu jangan ngopi aja ayo makan” ungkap norma dan yuli meminta kami masuk untuk makan bersama, bercahayakan hadeline yang menggantung di atas tenda doom, kami mulai berdoa agar diberkian berkah dan kesehatan atas makanan yang kita makan, suasana dingin ikut andil dalam masalah perut yang keroncongan ini, “selamat makan” uacapan kami berenam didalam tenda sambil menawari makanan ke pendaki solo tepat di depan tenda kami,.
            Lagu almarhum soe hok gie yang berjudul cahaya bulan menemani malam yang sunyi, bulan terlihat setengah sempurna di balut awan tips disekelilingnya, taburan bintang jadi penghias gelapnya malam, semilir angin merubah semuanya menjadi tenang entah siapa yang memulai, ketika peukul 22.00 Wib para pendaki yang berjaket tebal dan gagah berani keluar tenda dan menikmati suasananya, gemerlap lampu kota cirebon dan kuningan terlihat jelas dari atas sini, garis laut samudra hindia pun tak luput dari lukisan malam ini, walau harus merasakan pelukan suhu  5° celcius, kami tetap menikmatinya, terkecuali para srikandi yang sudah lelah, mereka memutuskan ingin beristirahat total, saya pun ikut dalam suasana yang damai  seperti biasa menyendiri dengan membawa parafin, kompor, kopi dan misting, tak ingin di ganggu saat sedang asik menikmati panorama malam ya walaupun dingginnya mungkin anda takan bisa membayangkannya tapi ini lah indahnyaberkemah beribu-ribu meter diatas permukaan laut, dari kejauhan terliahat tenda doom kelompok kami terbuka sedikit demi sedikit, hanya siluetnya saja yang saya lihat,  saya begitu terkejut  dengan dua sosok yang sedang mendekat ke arak ku, ternyata itu norma dan enjang yang bergandengan tangan “jang mau kemana? Aaacie yang lagi PDKT” tanyaku sambil menyulut sebatang rokok, “lagi pengen keluar dra, nemenin norma liat-liat panorama malam, eh si cintiya kasian tuh ajakin aja,” jawab enjang yang terlihat malu aku tanya,. Saya pun hanya membiarkan mereka keluar entah kemana, tiga orang dari rombongan solo pun menghampiri, sambil tetap menyeduh beberapa cangkir kopi, kita terus bercerita tentang pengalaman masing-masing tak berselang lama kabut tebal mulai turun pertanda suhu dingin akan memuncak,ditambah bau belerang dari kawah ciremai yang aktif tertiup angin malam, kami memutuskan masuk kedalam tenda masing-masing, melihat cista dan yuli tidur menggunakan SB tentara satu untuk berdua rasanya tak tega, tapi apa boleh buat saya cuman disa menyeletingkan SB mereka yang turun sampai kebawah dada, enjang dan norma belum juga masuk tenda entah apa yang mereka pikirkan diluarsana, saya pun beranjak masuk dan menggunakan SB kuning yang tersusun rapih di pojok tenda doom, “kaka kamu belum tidur? Habis kemana aja, udaranya dingin sekali” tanya cintiya yang setengah sadar dari tidurnya, “engga ko, habis ngobrol aja kamu tidur sana jam 4 kita bangun, lalu packing barang yang harus di bawa ke puncak” sambil menina-bobokannya.
            Terdengar gaduh diluar tenda yang menyebabkan saya terbangun, terlihat jam menunjuk ke angka 4.10 Wib, saya pun bergegas membangunkan rekan-rekan setenda yang tengah menikmati hangatnya SB dan lelapnya tidur “jang..jang.. bangun, bangun, ayo siap-siap kita packing dulu barang bawaan lalu kita naik jam setengah limaan” ujar ku mengoyang-goyangkan tubuh enjang yang sedang meringkuk,. Kami bergegas memasukan air secukupnya, makanan, parafin dan alat memask ke dalam carreil keci, di luar tenda suasana seperti pasar, semuanya sibuk dengan masing-masing kelompoknya tak merasakan dingin yang mengiris kulit maupun menusuk tulang walau pun harus sesekali menggigil dengan hebat, kami memutuskan berangkat pada detik ini, “semuanya jangan lupa pakai masker kalian, setelah itu kita berangkat bersamaan, hadeline harus dipakai di kepala tak boleh di jinjing, itu akan menyulitkan kalian dalam bergerak karena jalan yang akan kita tempuh sama dengan jalan yang kita lalui saat menuju camp ini pasir berbatu dan sangatcuram tak ada akar pohon yang kalian bisa raih jadi jaga keseimbangan agar tidak tergelincir ke jurang, bedanya kadar oksigen semakin tipis kita berada dalam ketinggian jadi badan akan cepat letih dan jangan sampe terkena AMS yang berujung hipoksia maupun hipotermia, kalau kalian lelah bilang saja tak perlu gengsi okeh” cela ku saat mereka menggigil menunggu intruksi untuk pemberangkatan, langkah pun kami ayunkan seiring waktu yang berjalan terlihat tenda, tenda di depan kami mulai kosong di tinggal penghuninya menuju puncak, kami sempat tercengan melihat pendaki dari indramayu, mereka tidur hanya beralaskan tikar palembang dan berselimutkan sarung tipis “kang indra  liat gak mereka, hebat banget ya bisa bertahan dalam dingin hanya beralaskan tikar dan berselimutkan sarung tipis” ucap cista yang melihat pendaki indramayu tersebut, “haduh mereka itu menggunakan manajemen pendakian yang standar” ujar ku menjawab pertanyaan cista, “maksudnya menggunakan manajement standar itu apa kang?” tanya norma dan yuli bersamaan, “standar bunuh diri” jawab ku cetus tanpa ekspresi,. Mereka pun terdiam dan tetap melanjutkan langkahnya, sedikit demi sediki kami mulai merasakan letih dan dingin yang amat sangat tangan yang terbalut pelindung tangan pun terasa dingin saat bersentuhan dengan tanah maupun batu bau belerang yang terhempas dari kawah memaksa masuk menerobos masker yang kami kenakan di tambah debu dari pasir yang kami injak, lampu-lampu hadeline terang bergantian di atas mungkin itu puncak atau hanya pendaki yang sedang beristirahat entahlah tapi kami terus melanjutkan perjalanan yang mengagumkan ini,. norma pun tumbang, ketika 250metr menuju puncak, enjang yang berada di jajaran paling depan langsung berlari menghampirinya, “kak enjang aku sudak gak kuat lagi nafasnya sesak sedangkan tangan dan kaki mulai keram seperti beku terancap kuat di dalam pasir” kata norma yang sekarang berada di pelukan enjang, “ kamu harus kuat aku janji kita bisa bersama-sama sampai puncak sebelum matahari 17 agustus keluar dari peristirahatannya, kamu harus bangkit ya, kamu kuat, dra kamu berangkat saja duluan aku akan menyusul 10 menit lagi” ujar enjang yang sedang menyakinkan norma yang telah tumbang karna sesaknafas,. Oksigen semakin rendah bau belerang yang tertiup dari kawan semakin membuat kami sulit untuk bernafas, ditambah debu pasir ciremai yang berterbangan terinjak oleh para pendaki lain, saya pun bermaksud untuk berangkat terlebih dahulu dengan membawa, cista,cintiya dan yuli “kalian masih kuat untuk perjalanan ini?” tanyaku meyakinkan mereka , “kami selalu siap apa pun yang ada di hadapan kami, karena kami terbentuk oleh suatu ketegasan, kedisipinan dan kesiapan, seperti apa yang kang indra ajarkan, persiapan, pengetahuan, dan pengalaman kami-lah yang membuat kami bertahan hidup dan meraih mimpi menatap mentari 17 agustus dari balik batas langit pasundan”  jawab cista dengan tegas, cukup tepukau aku dengan apa yang baru cista katakan, membuat cintiya dan yuli semakin bersemangat, sekarang cintiya yang berda di depan sedangkan cista, yuli, mengikuti dari belakang dan saya sebagai tim penyapunya, terus berjalan menanjak tanpa menoleh kebelakang, lagi- lagi satu rekan kami tumbang sekarang yuli yang menjadi korban keganasan dinginnya ciremai, terlihat menjatuhkan diri ketanah dan menggigil hebat, saya pun menghampiri dan memberi pertolongan pertama, sementara itu enjang dan norma tak tahu sedang apa tertinggal 250 meter dibawah kami,. Taklama kemudian “puncak...puncak...puncak...” teriak salah satu wanita yang tak asing suaranya, ya itu cintiya yang pertama menginjakan kakinya di puncak ciremai jalur cibunar ini disusul oleh cista  “hay cista , jangan berlalri kepuncak, tetap santai saja nati otot kalian keram” sahut ku melihat cista yang tak sabar mengecup cadas tetinggi itu, beberapa meter ku papah yuli walau harus menanggung berat, kakinya keram kesemutan seperti ditusuk jarum padahal ia mengenakan 3 pasang kaos kaki dan sepatu gunung merek ternama tapi tetap saja sang suhu extrm teteap masuk.
            Kami pun tiba di Batas Langit Pasundan, Cadas Tertinggi Jawabarat rasanya bangga bisa menjilat kembali kerikil tajam puncak gunung ciremai, sejuta rasa yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata, terlalu banyak perjuanagn dan penebusan atas indahnya puncak ini, mereka berteriak sekencang-kencangnya tanpa ada yang mampu meredam emosi positif, “kang indra terimakasih ya udah bisa membawa kami para srikandi menuju atap jawabarat” ucap yuli yang bangga atas dirinya, disusul cista “kang trimakasih banyak buat segalanya” sambil bersalaman, “ka makasih ya kamu udah bisa memenuhi janji kamu membawa aku sampai ke puncak ini, trimakasih banyak” ujar cintia yang tersenyum manis menambah suasana menjadi romantis, tapi saya belum lega sebelum enjang dan norma datang, semua pendaki hampir  sampai dan berada tepat di bibir kawah, sambil memanggil-magil rekan mereka yang tertinggal di belakang, “kak enjang.... teh norma...” beberapa kali para srikandi berteriak memaggil nama mereka 10 menit berselang belum ada tanda-tanda dari mereka, kami terus memanggil nama mereka berulang-ulang begitu juga dengan para pendaki lain yang bertriak memanggil rekan-rekan seperjuangan mereka yang belum mencapai puncak, 20 menit menunggu sorot hadeline kami tertuju pada jalur pendakian tepat  dibawah kami, terlihat bendera sangsaka merah putih menjunjung tinggi tertiup angin kencang dan itu adalah rekan kami, rekan sependakian kami, rekan seperjuangan kami, rekan terbaik kami,  Enjang bunyamin dan norma bersama dengan mas memet, ali dan andi yg memawa carriel dan membawa bendera yang kami banggakan , kami terus berteriak dari atas puncak menyemangati, agar semuanya cepat bergabung bersama kami di atas sini “ejang semangt... norma semangt... warga embeeee semangat batas langit pasundan  sebentar lagi” sahut ku memotivasi mereka, dengan wajah tersenyum bahagia kami menyambut kedatangan rekan kami itu, dengan memeluk erat, sambil memegang tongkat panjang berujungkan sang merah-putih kami berteriak “MERDEKA, DIRGHAYU INDONESIA KU YANG KE 68 TAHUN”. Tak puas hanya dengan berteriak kami mengajak para pendaki lainnya untuk menyanyikan lagu wajib, lagu terhormat, lagu kebangsaan bangsa yang besar  lagu (indonesia raya), terlihat dari ujung kawah sebelah barat lampu-lampu kecil pendaki gunung ciremai dari jalur palutungan juga ikut dalam suasana sakral yang mengharukan ini, lagu indonesia raya terngiang di puncak ciremai batas tangit pasundan, cadas tertinggi jawabarat, suasana dingin dan ekstrem terkalahkan oleh rasa harunya kebersamaan airmata kebanggaan air mata kemenangan terlihat dari setiap para pendaki yng ikut bernyanyi, detik-detik yang paling ditunggupun telah tiba, sang putra fajar datang menyambut kami yang tengah menyanyikan lagu indonesia raya, warna merah bercampur kuning oranye memanjakan mata dan menusuk dalam hati, otak pun tak luput memahat dan merekam detik-detik sunrish yang tiba, kita pun berteriak seolah kita telah merdeka, berteriak sekencang-kencangnya melepaskan semua beban yang pernah ada, inilah kami para pemuda dan pemudi indonesia yang bangga akan negara dan bangsanya, pribahasa mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi dan menghargai jasa-jasa pahlawannya, dan kami adalah calon pahlawan pahlawan lingkungan yang mengbdikan diri untuk lingkungan membuat setiap inci hutan, gunung tanpa polusi dan sampah, (gunung bukan tempat sampah) itu yang selalu saya dan rekan-rekan tanamkan kepada pendaki lain, para pecandu ketinggian, “jangan pernah merasa merdeka bila kita tak mampu memerdekakan alam raya indonesia, bila bukan kita siapa lagi” ucapku kepada semua para pendaki yang mengiringi kami. Kami pun serempak berdoa untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur di medan perang, dan serempak berdoa untuk para pahlawan lingkungan yang gugur di jalur pendakian semoga mereka diberikan tempat terindah disisi Allah Swt, amin ya robal alamin. “Kita yang gagah mampu berdiri dengan seribu mimpi dan sejuta usaha itulah hidup, Dan perjalanan yang tak biasa adalah menari di jalan tuhan”  trimakasih mas ali yang ganteng sayangnya gk ada yang tau, dan trimakasih mas andi yang selalu menanamkan kata semangat dalam diri saya ini, terlebih kompas spesial dari saudara yang baru saya kenal, kompas itu sangat berharga lebih dari apa pun terimakasih mas memet dan wage yang selalu ada dalam pelukan kakanda mu mas memet. Thanks to alam indonesia yang telah menyatukan kita sebagai saudara seperjuanagn dan sependakian, semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi di batas langit lainnya. “semangat dan kebersamaan yang membuat semuanya menjadi anugrah terindah 17 agustus 2013 kuningan jawabarat,(G.ciremai)
 TAMAT 
LAMPIRAN:
Cerita ini diangkat dari kisahnyata, pendakian gunung ciremai 15 – 17 Agustus 2013,
Terimakasih Kepada Allah Swt yang telah memberikan keselamatan dan kesempatan bagi kami untuk mengibarkan bendera dan mengibarkan semangat kemerdekaan di atap jawabarat, semoga dengan cerita ini, bisa bermanfaat untuk setip pembaca dan selalu ingat alam adalah rekan terdekat kita yang harus kita jaga dari tangan-tangan kotor primata sejenis kita yang rakus akan kekuasaan, rakus akan ketidak adilan ditanah terkaya ini.
Terimakasih untukh sahabat-sahabat semuanya, enjang, cintiya, cista, norma dan yuli (srikandi muda). Dan terimakasih juga untuk para pendaki dari solo yaitu mas memet, ali, ledeng dan andi, pendaki dari bogor, cirebon, indramayu, jakarta, dan seluruh pecinta alam Indonesia.

       
(kang indra)                                 (kang enjang)                                  (cintiya)
(cista)                                  (yuli)                                     (norma)

(pasukan srikandi)









Foto-foto saat pendakian:
(leuweung datar)                           (menuju kuburan kuda)           (tanjakan seruni)
(tanjakan bapa tere)         (tjkn.bpa tere)                     (batulingga dan kampung embe)
(sanggabuana II)                          (jalur menuju pangasingan)   (jalur menuju pangasingan)
(taman edlwise)                    (pangasingan)                             (samudra awan)
     
(Pendaki solo ali, memet, wage, andi)  (pendaki standar bunuh diri)    (ledeng asli solo)
(sesaat sesudah uapcara)                (sunrish 17 agustus)      (samudra awan sunrise)


lautan awan puncak ciremai
(pasukan srikandi dan pendaki solo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar