DI BATAS LANGIT PASUNDAN (3078 Mdpl)
Karya: Indra Agung.N (Abang gue)
Hari ini tanggal 8
agustus 2013, tepatnya hari kamis seperti rutinitas biasa menjelang satu minggu
keberangkatan menuju gunung ciremai kami telah menyiapkan segala sesuatu yang
harus dan wajib dibawa, bukan hanya masalah pendakian tapi kali ini saya
membawa 4 orang wanita alias pendaki srikandi, dan salah satunya adalah do’i.
Sebelum lanjut ke cerita perkenalkan dulu, nama gue indra agung noer sukma bin
udin muhyidin, akrab dipanggil kang indra, supel, biasa aja, penampilan urakan,
idealis, dll itulah saya tapi jiwa saya jiwa alam dan enjang bunyamin adalah
teman seperjuangan dan sependakian.
Siang itu gak sengaja kita ngobrol-ngobrol masalah hari
kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17
agustus tepatnya hari sabtu tahun 2013, seperti biasanya tanggal 17 agustus
menjadi tanggal yang amat sangat sakral bagi orang-orang yang cinta tanah
airnya, biasanya merayakan dengan lomba dan parade, tapi beda dengan saya
rutinitas 17 agustus kali ini di niatkan untuk mengharggai jasa-jasa pahlawan dan
mengibarkan panji-panji kebanggan sang sakala merah putih dengan cara mengecup
cadas tertinggi Jawa Barat 3.078 Mdpl, saya dan rekan saya enjang bermaksud
mendaki berdua pada hari kamis taggal 15-17 agustus, kita merencanakan sangat
matang sehingga didapat keputusan “kita mendaki”. Waktu itu do’i yang duduk gak
jauh dari tempat kita ngobrol entah sengaja atau gak sengaja ikut nimbrung dan
nimpain ceritanya, do’i juga anak pecinta alam di SMA yang saya rintis dari
awal sampe sekarang dan entah sampai kapan akan benar-benar pensiun. Ia
bermaksud ikut dalam pendakian merah putih ini, sontak respon saya tak mengizinin
dia untuk naik bersama kami, dikarenakan kita mendaki gunung ciremai dengan
jalur setannya yaitu jalur cibunar, “ gak, gak boleh ikut bahaya” itu kata saya
segelintir yang buat dia berhenti ngomong. Dia juga keliatan BT dan jutek ngedenger
ucapan yang singkat tapi jelas itu. “tapi aku pengen ikut naik jalur itu, aku
gak pernah ngeluh waktu pendakian-pendakian sebelumnya, iya kan?” jawabnya.
saya sempet mikir agak lama sampe waktu gak kerasa udah jam 15.00 WIB, tega gak
tega ngeliat dia murung gak karuan “it’s oke km boleh ikut tapi persiapan harus
lebih matang dari pendakian-pendakian sebelumnya” respon ku.
H-3 sebelum pendakian, saya sms do’i, nyuruh buat mempersiapan pendakian,
mulai dari carriel yang ideal, matras, SB, dll, jujur kalau masalah pendakian
gunung saya lebih sering bawel, rewel dari biasanya, soalnya ini menyangkut
nyawa saya, juga rekan-rekan. gak di sangka do’i ngajak 3 temennya yang belum
terbiasa buat muncak bareng tanpa seizin dan sepengetahuan saya, terlebih
mereka semua wanita, sontak saya kaget, syok, dan agak sedikit pesimis,
kira-kira mampu gak ya bawa cewek sebanyak itu. satu hari sebelum pemberangkatan
dimulai seperti pendakian-pendakian sebelumnya kita tehnikalmeeting dahulu
membicarakan kesiapan, dan persiapan. 2 jam pembicaraan dan pembahasan tentang
agenda pendakian summit merah putih, saya dan enjang bersamaan membahas
poin-poin penting pendakian, selang 5
menit kemudia ada 3 orang wanita yang ikut dalam diskusi ini, yaitu yuli, norma
dan cista mereka adalah rekan-rekan cintiya,. Melihat dari perawakan mereka,
kami berdua sempat GALAU apakan mereka bisa mencapai puncak ciremai, perkenalan
pun di mulai dari do’i yang bernama cintiya, enjang bunyamin, yuli, cista dan
norma, kita saling membicarakan tentang
pengalaman pendakian dari setiap masing-masing individu dan alhamdulilah mereka
semua masih perawan dalam artian belumpernah menjamah gunung, terkecuali cintiya,.
“kalian harus ekstra
tenaga untuk pendakian kali ini yang pertama kali untuk kalian, karena alam
bisa jadi teman sekaligus lawan yang harus di hadapi” kata ku sambil memandang
kearah cista, norma dan yuli. Respon mereka pun cukup baik hanya mengaguk,
entah paham atau tidak, esoklah hari-hari yang akan mereka alami dan mungkin
menjadi pengalaman terindah yang takkan terlupakan sepanjang hidup mereka.
“kang indra saya mau tanya apakah ciremai seganas itu untuk para pemula” tanya
yuli yang bimbang dengan pendakian esok hari, “semua gunung adalah sahabat
tergantung niat dan tegad kita untuk mendaki, persiapan, pengalaman dan
pengetahuan yang membuat kita akan bertahan hidup, jadi apa yang harus di bawa
wajib kalian bawa” ulas ku menimpa pertanyan bagus dari yuli, saat bersamaan
tak di sengaja saya liat mimik muka antara enjang dan norma, mereka sepertinya
jatuh cinta pada pandangan pertama, terlihat dari gelagat enjang yang selalu memandang
penuh perasan kepada norma, begitu juga sebaliknya.
Tanggal 15 agustus
2013 pukul 06.00 WIB semua perlengkapan sudah siap kita ber 6 menuju pos
pendaftaran yang terletak 2,5 km dari jalan provinsi kecamatan cilimus, enjang
mendaftarkan kita ber 6 satuhari sebelum pendakian dimulai, kami meminta izin
dari penjaga pos pendakian cibunar, wajah-wajah bersemangat terlihat dari
setiap senyum sang pendaki yang akan mengiringi jejak langkahnya, waktu
menunjukan pukul 07.00 Wib, kami bergegas berangkat menuju pos pertama yaitu
cibunar dari sini jalur cibunar masih jalanan aspal tapi tanjakan vila iwan fals
yang berada tepat di depan mata kami, membaut fisik mulai kendor 30 menit
perjalanan menuju cibunar terselesaikan, terlihat wajah-wajah letih tapi tetap
mengobarkan semangat 45, di pos cibunar kita mengisi persediaan air, karena
disini adalah pos pertama dan pos terakhir yang masih menyimpan candangan air
yang melimpah, kami ber-enam memutuskan sarapan terlebih dahulu, sebelum menuju
pos ke II leweung datar, “kang aku dateng bulan waktu tadi malam, aku masih
bisa lanjut kan?” tanya cintiya, sempat merasa kesal juga kenapa baru sekarang
dia ngomongnya, bukannya tak boleh untuk pendakian saat lagi haid tapi fisik akan
semakin kendor, cepat lemas, ditambah sakit perut yang amat sangat, “iya bisa
lanjut tapi resiko di tanggung ya, yang ngerasinkan kamu buakan aku, tapi tetep
aku akan dampingi kamu sampe ke puncak nanti, janji seorang pecinta alam sejati
dan seberat apapun resikonya pria sejati akan tetap bertanggung jawab kepada
apa yang ia yakini, keyakinan itu adalah membawa kamu sampai atap langit
jawabarat” ia pun tersenyum optimis mendengar kata-kata yang telontarkan tadi,.
Dengan membawa carriel 80 litter kami memulai pendakian yang sebenarnya,
melihat hutan cemara dan hamparan ilalang yang indah menjadi pemacu semangat
kami berenam, enjang yang menjadi penunjuk arah sedangkan saya di belakang
sebagai penyapu dan sebagai motivator rekan-rekan dalam pendakian,. matahari
mulai terik saat kita berenam melewati tanjakan ilalang, keringat yang mengujur
dari setiap pori-pori kulit mulai membasahi baju yang kami pakai,.
tepat
jam 8.00 Wib sampai di pos ke II yaitu lewung datar atau arti kata dalam bahasa
indonesia adalah hutan datar, dari semua pos pendakian hanya leuweung datar
yang paling berbonus track datar, kita ber istirahat kurang lebih 15 menit
hanya untuk meneguk setetes air yang harus kami hemat, setiap orang membawa 5
litter air kecuali norma hanya membawa 3 litter air, 5 litter air harga mati
untuk jalur pendakian cibunar ini dikarenakan tak ada sumber mata air yang
lain, kecuali di pos kondangamis itu juga harus berjalan melewati tebing
berakar dengan menempuh waktu ±1-2 jam perjalanan di luar jalur pendakian. Di
pos ini kita di sugguhkan nuansa hutan homogen yang lumayan menyejukan mata.
Sambil merebahkan diri yang sudah lumayan letih di atas tanah gambutnya,
terdengar suara burung dan sedikit helaan nafas, terpandang sekejap enjang
menyekatkan keringat norma, “cie, cie, cie romantisnya” celetuk keisengan dari
cista, dengan sigap enjang menurunkan tangan nya dari kening sang pujaan, entah
apa yang saya pikirkan tapi pendakian ini lebih condong menjodohkan mereka.
perjalanan
kami lanjutkan dengan bergegas kami memasuki hutan condangamis, dalam perjalanan
yang tak biasa ini, sangat khawatir melihat cintiya berjalan tertatih tapi ia
bukan tipe cewek yang manja, walau pun berada di jajaran paling belakang,
melihat cista tak enak dengan keadaan carreilnya, enjang dengan sigap
menghampiri dan membenahi susunan barang bawaannya yang terlihat tidak nyaman
itu, tak lama dalam perjanalanan kami telah sampai di pos ke III yaitu kondangamis,
disana kami di sambut para pendaki lain dan meminta kita mampir untuk sekedar
istirahat, 5 menit waktu yang dibutuhkan untuk kami istirahat, track panjang
dan lumayan naik ada di depan mata, “kita sekarang menuju pos kuburan kuda
siapkan pijakan kaki kalian agar tidak tergelincir” kata enjang sambil
mengenakan carreilnya. Perjalanan menuju pos kuburan kuda lebih sulit dari
pos-pos sebelumnya karena banyak tanjakan kecil yang lumayan menguras tenaga, 1
jam kami tempuh untuk menuju pos kuburan kuda, disana kami bertemu pendaki dari
indramayu, melihat persiapn mereka yang sangat kurang dan seadanya membuat saya
sedikit miris dibuatnya, selang beberapa waktu kami beristirahat, jam
menunjukan pukul 11.30 Wib, kami bergegas mengenakan ransel dengan tetap
bersamaan mendaki, baru sekali melangkah tanjakan terjal dibumbui akar
menjulang didepan mata dan kening kami, semua srikandi yang memandangnya dibuat
tercengang, langkah demi langkah terus menanjak empat lima langkah kami berhenti
karena dengkul kami berenam serasa akan copot dari persendiannya, sekarang yang
menjadi lider yaitu cintiya, semangat yang membara seolah tak biasa terbendung
oleh ganasnya tanjakan didepannya, diikuti yuli yang hanya membawa cerril
berkapasitas 45 litter, sedangkan enjang dan saya tertatih dibelakang
mendampingi cista yang keletihan, disitu saya dan enjang sepakat membawa
sebagian air yang dibawa cista enjang 1,5 litter dan saya 1,5 litter agar
perjalanan cista tak tersendat di jalur ini.
Jam
13.30 kami sampai di pos ke V yaitu pangalap, kami beristirahat untuk sekedar
shalat dzuhur yang terlewat saat perjalanan, di sini kami melakukan rutinitas
yang wajib yaitu foto-foto, enjang yang biasanya paling banyak di sorot kamera
sekarang bergantian menjadi fotografer dadakan, makanan ringan seperti coklat,
roti dan snack kami buka sebagai pengganjal sementara perut, “sesudah pangalap
akan ada 2 tanjakan gila yaitu tanjakan seruni dan yang ekstra putu asa yaitu
tanjakan bapa tere, “kalian harus berhati-hati jangan sampai salah pijakan, dan
jangan pernah munafik untuk minta istirahat” kata ku kepada rekan-rekan yang
tengah bersantai, “emang segitu parahnya ya kang tanjakannya” tanya norma,
membuat semua menjadi hening seketika, “kita coba saja dulu, kita pasti bisa
melewati apapun bila bersamaan” jawab enjang menimpa pertanyaan dari calon
pacarnya itu, perjalanan kami lanjutkan tepat jan 14.00 jalur mulai menunjukan
aura pemutus asa, kita bagi jadi dua grup, yang pertama saya, yuli dan cintiya,
dan grup kedua enjang, norma dan cista, walaupun kami di pecah menjadi dua,
tapi tetap kita berangkat dan bergerak bersamaan, dengan selang jarak 20 meter
atau kun waktu 10menit.
Tanjakan gila berubah menjadi tebing
kecil yang mempesona, seperti berjalan di sebuah lorong dengan sudut 80° dan
dengan pijakan tertatih pada jalur yang sangat ekstrem, saya berada paling
depan di antara cintiya dan yuli, tapi tetap sesekali menengok kebelakang
memastikan yuli dan cintiya berada dekat dengan saya, “aduh kambuh nih, perut
sakit banget gak bisa ditahan lagi” ujar cintiya bergumam kecil, “okeh kita
break dulu, kaki luruskan jangan sampai ditekuk, nanti kalian bisa keram” ujar
ku kepada mereka yang tepat berada beberapa meter dibawah, hentakan nafas, kaki
yang mulai bergetar udara yang mulai tipis menemani setiap langkah yang
tertatih ini, di tanjakan seruni memang tanjakan yang lumayan panjang dari pos
pangalap, kami melajutkan perjalanan dan sampai di tikungan ke 5 terlihat dari
bawah, pelat kuning bertuliskan tanjakan bapa tere atau tanjakan bapa tiri,
silsilahnya tanjakan ini di ambil karena kejamnya medan dan jalur yang harus di
lalui, tak tanggung ini bukan tanjakan melainkan tebing dengan sudut kemiringan hampir 90°, kami
memutuskan menunggu grup enjang yang berada di belakang “kang indra apa gak ada
jalur lain selain ini?” tanya yuli menengadahkan kepalanya ke atas dengan mimik
muka yang kosong, saya pun tertawa dibuatnya “yuli, yuli inilah gunung, inilah
petualangan, dan inilah indahnya penderitaan ya ini adalah seninya mendaki,
jangan pernah menganggap yang sulit akan menyulitkan tapi anggaplah yang sulit
kita lalui adalah ke indahan yang orang lain mungkin belum pernah memandangnya
apalagi mencoba melewatinya bahkan memikirkannya, senyumlah dan nikmati
tanjakan paling langka ini” ujar ku sambil tersenyum memotivasi yuli, 10 menit
berselang enjang, norma dan cista mencoba berteriak memanggil nama ku, sekedar
memastikan mereka berada dekat dengan ku, “indra,... indra...” teriak enjang
merobek ketenangan di hutan ciremai, “woyyyy... ini sudah sampe pos bapa
tere..” saut ku menjawab teriakan dari enjang,. Kami kembali ke grup awal
mencoba beristirahat cukup lama sampai waktu menunjukan pukul 16.00Wib, “kang
kita mau ngecamp dimana” ujar cista yang mulai keletiah sesaat setelah melewati
tanjakan seruni, “kita ngecamp di sanggabuana I atau sanggabuana II tergantung
waktunya, kalau jam di tangan ini menunjukan waktu 18.00 kita brhenti dan ngcamp
di pos yang kita lalui atau pos bayangan” jawab enjang memotong pembicaraan
kami.
Kami semua mulai mempersiapkan uji
mental dan fisik tanjakan panjang dan curamsekarang berada tepat didepan kami,
tangan mulai mendominasi dalam perjalanan ini akarlah yang menjadi penolong
saat kaki tak mampu mengangkat beban tubuh ditambah carreil yang di bawa,
lantuna bismilah keluar dari masing-masing mulit sesaat melangkahkan pijakan
pertama, saya berada paling depan sekarang mencari akar dan pijakan yang kuat
untuk nantinya di ikuti oleh srikandi-srikandi muda yang gagah, satu hentakan
nafas satu langkah menanjak dan menggengam akar-akar pohon yang keluar dari
balik keras dan licinnya tanah coklat ciremai, walaupun saya dan enjang sudah
terbiasa melewati jalur ini, tapi tetap fisik dan mental kami yang harus kami
pakai untuk melewatinya. “breeeeaaakk” teriak srikandi paling belakang,
istirahat cukup 1-2 menit saja agar langkah berikutnya tak kembali goyah,
sesaat sampai dipos bayangan kita berhenti 15 menit waktu menunjukan pukul
17.15 Wib, melihat rekan-rekan yang sudah terlampau letih saya putuskan untuk
berkemah di pos batulingga pos ke 7 dikarenakan waktu untuk menempuh pos 8 dan
9 yang di sebut sangga buana masih berada jauh dari pos bayangan bapa tere ini,
enjang, cista, norma dan yuli mereka bergegas mengenakan carreilnya lagi,
sedangkan cintiya masih duduk bersandarkan pohon dengan mata terpejap, “jang
kamu bawa rekan-rekan dan melanjutkan perjalanan, saya dan cintiya akan
menyusul” ujar ku menitipkan rekan-rekan yang lain kepada nya, “oke siap mas
broo” timpa enjang sekenanya. Melihat cintiya yang amat kelelahan saya
diam-diam membuka carreil miliknya dan mengambil satu botol air berisi 1,5liter
dan menempatkannya di carreil saya yang sudah di persiapkan sebelumnya, “kaka
lanjut lagi yuk, temen-temen yang lain sudah pada jauh” ucap cintiya yang masih
menikmati istirahatnya sambil tetap memejamkan matanya, kami berdua bergegas
berjalan menyusul enjang dan srikandi yang lainnya, tak lama kita berjalan
cintiya meminta break karena perutnya mulai terasa sakit yang amat sangat,
“kaka aku sudah tidak kuat lagi melakukan perjalanan ini, rasanya semua
persendian akan copot dari pangkalnya, badan ku mulai dinggin juga ka” kata
cintiya yang terlihat prustasi, “hay... terkadang kamu tahu bahwa kamu mampu
melewati semua ini dengan kesendirian, tapi sekarang ada aku yang akan
mendampingi kamu, tak ada yang lebih kuat dari kamu selain semangat kamu
sendiri, kenapa 2 hari yang lalu kaka kasih lonceng ini, lonceng yang sama
dengan punya kaka,? Setiap satu langkah pasti lonceng yang tergantung di
carriel kamu akan berdering, satu derinagn lonceng itu adalah satu perkataan
semangat buat kamu, kamu pasti bisa percaya ya sayang aku akan selalu ada di
dekatmu”, motifasi ku terhadap ia yang sangat aku sayangi, kita berdua
melanjutkan perjalanannya lagi waktu sudah menunjukan 17.35 Wib suasana mulai
gelap saya menurunkan carreil dan mengambil hadline, agar nati saat gelap
gulita datang kita sudah siap dalam posisi, ±150 meter kita berjalan tiba-tiba
kmbali cintiya meminta untuk beristirahat, terlihat nafasnya terengah-engah,
kakinya bergetar hebat, airmata yang belum pernah aku lihat selama ini keluar
dari dua sudut matanya, sambil duduk di tanah yang dingin dan beku beralaskan
rumput dan akar yang tak beraturan ia menangis dan menyesali apa yang ia
lakukan “aku gak akan pernah mau lagi naik gunung saat keadaan haid seperti
ini, rasanya lemes banget, gak sanggup melangkah lagi, badan mulai mendingin”
ucap cintiya yang tak tahan dengan jalur dari bapa tere menuju pos batulingga,
sesaat setelah mendengar apa yang ia katakan saya menyesal membawa nya ke
pendakian ini bukan menyesal karena ia mengeluh tapi menyesali tindakan bodoh
saya yang tetap mengizinkannya, itu namanya membunuhnya secara perlahan, membunuh
orang yang saya sayangi, “cintiya apa pun yang kamu rasakan aku juga turut
merasakannya, kamu sabar ya pos batu lingga sebentar lagi nanti kita istirahat
total di sana aku bakal membawa dan menjaga kamu smpai ke puncak .” Sambil menghapus
setiap tetes air mata yang keluar dari sudut matanya, bergegas aku mengenakan
carreil ku dan membawa carriel cintiya yang tergeletak di depan ku “kaka aku
masih kuat ko membawa carriel ku, kata kamu carriel adalah tanggung jawab
setiap individu yang membawanya baik ia mati atau hidup” ungkapnya menahan
langkahku yang kini membawa 2 carreil sekaligus, “bukan hanya bahagia atau tawa, tetapi derita dan air mata juga bagian
dari perjuangan, kamu percaya aku pasti kuat bawa dua carriel ini
sekaligus, kamu jalan duluan ya kaka di belakang kamu” jawabku sambil mengusap
air mata dan membelai halus rambutnya, meyakinkannya bahwa aku bisa
melakukannya, sebelumnya belum pernah sekali pun aku naik dengan dua carriel
besar sekaligus, saya selalu bertanggung jawab atas apa yang saya yakini keyakinan
itu cinta dan kasih sayang yang tulus dari orang yang palingh kita cintai.
Perjalanan mulai terasa dua kalilipat dari biasanya nafas
saya mulai terengah-engah hebat, langkah
kaki baru 50 meter sudah goyah tak karuan, tapi dengan keyakinan semuanya akan
menjadi lebih mudah walau pun tak segampang melakukannya, melihat orang yang
kita sayang berjalan sangat anggunnya di depan mata menjadi motivator
tersendiri untuk melangkah lebih jauh, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul
18.05, kami belum juga sampai. Lagi-lagi cintiya meminta kami untuk beristirahat,
dan saat itu juga ia kembali menangis, “kaka maaf’in aku ya udah nyusain kamu, sampai bawa carreil aku segala”
sambil meneteskan airmatanya,. “Wanita menangis bukan berarti ia cengeng kan?
Tetapi ia lebih mempunya perasaan yang lebih lembut dari pria, dan apa bila
pria menangis tangisannya itu suatu kejujuran, kamu jangan nangis lagi ya, air
mata kamu keluar untuk hal yang mungkin tak sepantas nya kamu tangisin, kita
jalan lagi ya tapi kita istirahat dulu 5 menit disini” ujarku menenangkan dia
yang telah kehabisan semangat, tak jauh dari tempat kami ber istirahat
terdengar suara gaduh dan teriakan yang tak asing aku dengar “indra...
cintiya.. indra... cintiya...” terus berulang-ulang teriakan yang tak asing itu
memecah keseunyian magrib di hutan belantara ciremai,. Kita berdua mulai
berdiri dengan kuat dan melihat ke arah atas terpampang jelas plat kuning tertempel di pohon besar yang bertanda itu
adalah pos, “enjang....enjang... sadiakeun cai kopi” teriak ku mneggunakan
bahasa sunda untuk penyemangat ke galauan di sunyinya dan dinginnya belantara.
Cintiya pun bergegas berdiri dan berjalan di depan ku dengan wajah yang sedikit
lebih bersemangat dari sebelumnya. Celaka bukan main saat berdiri kaki ku
terasa keram, baru beberapa kali melangkah kaki kanan tersangkut di akar badan
tak mampu seimbang menahan sakit kaki dan carriel yang berat dan tiba-tiba,
srrrrrtttttt gbruuug aku terjatuh dalam posisi tengkurap dan kaki masih terikat
akar yang kuat, menyebabkan kaki kanan tergantung diatas ku terkilir dan biru
itu sudah pasti dalam pikirku, “kaka kamu kenapa?” tanya cintia yang berada 15
meter didepan ku, “gak apa-apa ko cuman licin aja jalannya, kamu jalan terus
ya, kalau udah sampe buatin kaka kopi hitam okeh ?” ungkap ku untuk menutupi
rasa khawatir cintiya, rasanya sakit sekali saat kaki mulai lagi di pijakan
ketanah, mencari batuna tongkat pun jadi solusinya, tapi tak ada yang bisa aku
raih selain ranting-ranting kecil, terus berjalan walau tertatih sedikit demi
sedikit di temani cahaya lampu hadeline yang menempel di kening,.
Malam yang dingin di batu lingga tepat pukul 18.50 Wib
suasana di pos ini sangat mencekam di tambah terdapat memoriam nisan sahabat
lama ku yaitu kasmi, seperti biasa sesampainya di batu lingga saya tak ingin
melakukan apapun selain berdoa di bawah memoriam nisan kasmi,
“kita yang gagah mampu berdiri dengan seribu impian dan sejuta usaha itulah
hidup, jiwa yang hilang tetaplah hilang menjadi puing-puing memoriam mu,
(alfatiha) untuk jiwa pemberani jiwa yang gugur di batas langit pasundan, cadas
tertinggi jawabarat” kutaruh carreil yang megekang pundak dan
menjatuhkan kedua tumit ku ditanah yang bergelombang, sambil memandang tulus
nisan kasmi, menengadahkan tangan dan menundukan wajah serta menutup kedua mata
dalam doa ku “asalamualaikun sahabat, kawan, rekan, sodara, dan orang gagah
dengan sejuta cinta dan tawanya, aku datang menemui mu kawan, rasanya baru
kemarin aku, engkau dan rekan-rekan lainnya mendaki gunung ini untuk yang
pertama kalinya, sekarang aku datang membawa sepenggal doa yang tulus untuk mu
(alfatiha), engkau kawan baik ku kawan akrab ku, terakhir kau buatkan secangkir
coklat panas di bapa tere dan menyulutkan ku sebatang roko ber aroma oriental,
sekarang kau sudah tiada bersama indah dan sunyinya alam ini, kawan... setiap
hari ulang tahun mu aku selalu datang kesini membawakan sgenggam bunga mawar
putih kesukaan mu, aku rindu dirimu yang ceria yang selalu menambah suasan baru
di setiap pendakian, semoga engkau dapat tidur dengan damai, di temai
rindangnya pohon akasia yang berada tepat di atas nisan memoriam mu, semoga
Allah Swt memberikan tempat yang layak yaitu surga seperti surga puncak pertama
kita di bumi pasundan ini, amin ya allah ya robal alamin selamat jalan kawan
baik ku, aku mencintai mu seperti sahabat-sahabt ku yang gugur dalam
pendakiannya”,. Selang beberapa menit dalam doaku cista memanggil dari balik
tenda “kaka ini kopi kamu sudah jadi nanti keburu dingin” teriaknya yang memintaku
beranjak dari tempat itu.
Dinginnya malam semakin berlanjut aku menyuruh semua
rekan-rekan untuk tidak memakai baju hangat, kupluk, dan sarungtangan terlebih
dahulu, karena untuk penyesuaian suhu tubuh, bila kita mengenakannya sekarang, yang ditakutkan jam 12 malam dan jam 2 pagi
mereka terkena hipotermia karena dingin pada waktu tersebut akan mencapai titik
klimaksnya, tepat jam 8 malam cuaca mulai menunjukan suhu 10°celcius semua
rekan-rekan telah mengenakan jaketnya, sarungtangan, kupluk dan kaos kaki
dobel, sedangkan waktu itu kabut yang sangat tebal turun ke pos batulingga,
cahaya hadeline tak mampu menembus batas 10 meter hanya berjarak 3-5 meter
saja, aku pastikan semua rekan-rekan ku sudah dalam keadaan berkumpul di dalam
tenda doom yang kami bawa, sedangkan aku masih di luar tenda mengumpulkan kayu
bakar, terdengar sayup-sayup angin yang sedikit aneh, entah itu imajinasi ku
atau nyata yang pasti 2 kali sudah ada yang memanggil nama ku dari atas pohon
akasia yang begitu tingginya, terlihat dari bawah pos yang kita tempati sorot
lampu berwarna putih terpancar, seketika aku mengambil hadeline yang berada di
kantong jaket, dan menyorotkan ke cahaya itu juga, ternyata rombongan pendaki
lain dengan sigap aku pun meneriaki mereka “ pos...pos.. pos sebentar lagi ayo
semangat kawan”, waktu menunjukan pukul 22.00 Wib gelisah di dalam tenda aku
dan enjang berencana keluar tenda sekedar untuk merokok dan menyeduh kopi hitam
yang kami inginkan, di situ kami mendapat suasana baru indahnya langit bertabur
bintang seakan-akan kami berada dekat dengan langit pasundan, di temani suara
satwa malam yang melengking indah dan hembusan angin dingin yang menyejukan diri
ditambah pelukan suhu dingin dibawah 10° celsius, kami mulai bercengkrama
dengan rekan-rekan pendaki lain diantaranya dari solo, ada mas memet, mas ali,
andi, dan nama terunik yaitu ledeng (seperti nama penyedot air dalam sumur)
untuk yang dari bogor, ada kang riyan, yanto dll, sedangkan dari cirebon ada
emba yanti, mas usma, dan mas soleh, di langit malam 15 agustus itu kami
bercengkrama saling menukar cerita tentang pendakian setengah gunung yang telah
di lewati kami ini, ada yang ampun-ampuna saat melewati bapa tere, ada merayap
seperti cicak saat naik di tanjakan seruni, semua tumpah ruah dalam suasana
dingin tapi menghangatkan tali persaudaraan antar pencinta alam dan pendaki
gunung selebihnya sebagai warga negara indonesia yang ingin mengibarkan
panji-panji kemerdekaan di puncak ciremai “mas indra, enakan di gunung ya kalau
nyari teman seperjuangan itu” ungkap memet kawan yang baru aku kenal dari solo,
“iya mas memet, kalau digunung rasa persodaraan dan persamaan antar pendaki
sederajat, tak memandang itu akan orang kaya atau miskin, pejabat atau kuli,
semuanya sama di gunung tergantung rasa peduli terhadap lingkungannya, kalu
cuman naik gungung aja semua orang pasti bisa yang membedakannya jiwa sosial
saling membantu, semuanya kotor kalau di gunung presiden aja kalau naik gunung
pasti kotor kecuali korban film 5cm semuanya pada bersih, bersih gak bawa
sampah hahaha, malah di tinggal di gunung” jawab ku menyinggung film yang konsepnya
pendakian itu,. kami pun tertawa bersamaan dengan api unggun di hadapan kita,
jam 24.00Wib kita semua mulai istirahat total, hangatnya sleepingbag adalan
anugrah untuk mimpi indah.
Keesokan hari tanggal 16 agustus 2013, perjalanan kami
lanjutkan waktu menunjukan pukul 07.00Wib sebelum pemberangkatan rombongan dari
solo, bogor dan cirebon meminta bergabung bersama kami dalam pendakian merah
putih ini, “mas wis gabung ake yu kabeh ne” kata mas andi sambil packing tenda
dan carreil, “muhun kang urang gabung wae atuh sasarengan” timpa riyan pendaki
dari bogor, “aduh-aduh ayo saja kita gabung bersama, bahasa kalian susah
dimengerti harus ada penerjemah nih orang google translet jawa dan sunda
menjadi bahasa indonesia yang baik dan benar” jawab ku sekenanya, kita
lagi-lagi tertawa bersamaan sambil menikmati sunrise yang datang dari balik pepohonan, “hayu kabeh ne urang
mangan alias dahar alias sarapan, mangan iwak asin, dahar lauk asin
hahahaahaha...” celetuk mas ali yang asli solo tapi mengerti dua bahasa, tak
tahan mendengar celetukannya kami lagi-lagi tertawa sambil menikmati mie instan
di campur sarden istimewa buatan para srikandi sunda-jawa-betawi.
Kaki yang terkilir kemarin masih terasa sakit yang
lumayan, sengaja aku sembunyikan raut wajah ku yang menandakan aku sedang
tersiksa, semuanya berjalan beriringan, tapi kelompok srikandi yang ku bawa
adalah kelompok yang pertama berangkat sedangkan kelompok dari solo, bogor dan
cirebon menyusul di belakang, perjalanan tinggal beberapa kilometer lagi dan
masih 4-5jam lagi, kita tinggal melewati sanggabuana I, sanggabuana II dan pos
terakhir sebelum puncak yang menjadi tujuan peristirahatan kami yaitu pos pangasinan
atau pangasingan. Track lumayan sanga-sangat terjal tapi stamina di pagi hari
sudah terkumpul kembali kami menempuh sanggabuana I dan sanggabuana II hanya
dengan dua setengah jam, lumayan cepat dari perkiraan yang akan memakan waktu
3- 4 jam, kami beristirahat sejenak di sanggabuana II sambil menikmati
kesejukan dan keindahan ciptaan Allah Swt, bergegas saya menuju pojokan pos
tersebut dengan membawa botol pelastik kosong, “kang indra mau kemana?” tanya
yuli dan norma bersamaan, “ini mau ngambil air dipojok, siapa tau aja masih ada
sisa air rebesan akar, lumayan buat kita minum kopi, persediaan kita masih bnyk
juga, tp tetap harus di hemat-hemat”. Ungkap ku menjawab pertanyaan mereka
berdua.
Jalur menanjak dan panas akan kita lalui dari sanggabuana
II menuju pangasinan jalannya berbatu dan berpasir pohon-pohon tinggi sudah tak
ada yang terlihat hanta pepohonan kecil jadi kami sepakat menggunakan masker
dan jarak kita saat mendaki tak terlalu dekat, “hati-hati ya jangan menginjak
terlalu kencang batunya nanti bisa mnggelinding kebawah lalu perhatikan jalur
juga, jangan asal memegang ranting pohon, karena pohonnya sudah mulai lapuk
perhatkikan juga keseimbangan jurang disebelah kanan dan kiri siap menelan kita”
sahut enjang mengingatkan para srikandi, track kali ini beda dengan yang lain,
karena kita memutuskan perjalanan siang agar bisa mendapat ruang untuk
mendirikan tenda, tapi resikonya yaitu panas yang amat sangat tidak di pungkiri
semakin tinggi ketinggiannya semakin kecil pula tanaman yang hidup dalam
ketinggian diatas 2800Mdpl jadi tak ada tempat bernaung untuk kita beristirahat
dari lelah dan panasnya mentari yang waktu itu menyorot tepat di ubun-ubun waktu mulai menunjukan pukul 11.00 Wib, kami
beristirahat di selter kecil atau pos bayangan melihat ke arah kaki dan membuka
geitters(pelindung sepatu/kaki) warna kaki kanan ku berubah menjadi unggu dari
tadinya biru, sakit tak tertahan saya putuskan untuk beristirahat cukuplama,
dan meminta enjang membawa rekan-rekan yang lain naik terlebih dahulu ke
pangasinan, “kaka kamu kenapa, ayo cepet kata ka enjang kita udah mau sampai” ujar
cintiya yang sedari tadi memperhatiakan keadaanku, tapi ia belum tahu aku
sedang merasakan penderitaan yang
sangat, 20 menit berselang tinggal aku sendiri sedangkan rekan-rekan yang lain
entah sudah dimana, menikmati rasa sakit berbonus samudra awan di arah timur,
langit biru tanpa noda, udara panas tapi menyejukan paru-paru yang tercemar
poulsi kota, indahnya hidup dalam kesendirian, suara burung anis karang menjadi
pelengkap keindahan alam indonesia ini, saya sungguh-sungguh bangga jadi
penghuninya. Tak lama aku menikmati semuanya, awan putih turun, mengecup kening
dan pipiku seolah berkata : “hai kawan,
liatlah luka mu, dan bandingkan dengan jarak mu memlangkahkan kaki, kau terlalu
tangguh untuk ku lukai, gunung pun
meminta maaf kepadamu atas tindakannya kemarin, kau adalah pecinta alam yang
melindungi kami dari primata-primata jahat sejenis mu(manusia) kau berbeda
dengan primata sejenis mu, jiwa mu kokoh untuk melindungi satu pohon atau
bahkan jutaan pohon,aku mencintai mu begitu juga alam indonesia yang menyayangi
mu kuatkanlah pijakaan mu, bawalah rekan-rekan mu menemui sang putra fajar
(sunrish) agar rekan-rekan sejenis mu bisa menikmati indahnya alam ini,
indahnya ciptaan Allah yang mungkin orang lain belum pernah melihatnya, ku
kecup kening mu sebagai tanda kasih sayang atas prjuangan mu kepada alam
melawan segalanya, dan ku kecup kedua pipi mu sebagai tanda penjagaan mu kepada
lingkungan , dan ku peluk diri mu sebagai tanda kita sahabat samapai liang
lahat, buktikanlah kau mampu mengibarkan panji-panji kemerdekaan atas
penindasan kami, terimakasih sahabat berjalanlah perlahan aku akan mendampingi
mu” sejenak ku terpejam ketika perkataan
itu terngiang dan tersiarat dalam hati dan benak, kembali ku mengenakan carriel
sambil menghirup udara dalam-dalam tanpa
tercemar sambil berkata bismilahirohmanirohim, langkah tegap tapi tetatih
dibantu tongkat dari kayu yang kudapat saat beristirahat, langkah kaki tak bisa
terbendung memandang terus ke atas tanpa menengok ke bawah, inilah petualangan
ku petualangan untuk membebaskan alam dari jajahan manusia, langkah yang
memamerkan aku cinta indonesia, tak berselang lama hamparan taman edelwise
terlihat dikanan dan kiri tempat ku melangkah indah dan wanginya semerbak menjadikan semangat menjadi api pembakar kemunafikan, pertanda
pangasinagn sudah tinggal menghitung langkah, dan.... benar saja pangasina ku
pijak dengan kaki kanan tanda aku menghormati
perjuangan kami selama ini, rekan-rekan yang lain telah menunggu dan sampailah
kita di pangasingan, pos terakhir sebelum puncak, dahaga tak bisa di tutupi, ku
ambil sebotol air mineral yang meggantung di cerril dan menenggak sedikit demi
sedikit air jernih khas cibunar.
ditangan terbogol sebuah jam yang menunjukan pukul
12.00Wib kami sepakat mendirikan tenda agar nantinya kita bisa beristirahat
dengan nikmat didalamnya, tak lama semua pendaki sampai di pos pangasinan
tempat kami berada, sambil membantu menyemangati pendaki-pendaki lain
“euuuuuuyyy, pangasinan ayo semanagt teman-teman pangasinan” teriak ku dari
atas awan memotivasi teman-teman dari solo, bogor, cirebon dan semua pendaki
gunung dari indonesia. Kami benar-benar dimanjakan di pangasinan ini, langit
diatas kepala biru tak berawan sedikit pun, dihadapan terlihat lautan awan dekat sekali dengan
kami, seperti kapas putih yang lembut ingin sekali meraihnya dan tenggelam
didalamnya terlihat dari kejauhan 3 puncak gunung lainnya yaitu gunung selamet,
dan sikembar gunung sindoro, gunung sumbing, sedangkan di belakang pundak kami
terlihat kerucut puncak ciremai yang tinggal meraihnya saja dengan jarak tempuh
0,8 Mdpl/ 800meter lagi setara dengan 45-60 menit pendakian, kanan dan kiri
terhampar jelas taman bunga edelwise yang sangat indah karena pada bulan
agustus semuanya bersemi dan merekah bagai senyum bidadari disurga subhanallah,
indahnya ciptaan Mu tak bisa orang lain membuatnya, hanya bisa menjaga,
melestarikan dan menikmatinya berfoto bersama ciptaan tuhan memang membuat
suatu kebanggaan tersendiri contohnya “kang tolong fotoin dong, samudra awannya
bagus, lumayan untuk poto profil di FB” saut cista sambil memberikan kamera
digitalnya kepada ku,.
Matahari mulai malu dan bersembunyi tanda waktu petang
telah tiba, setidaknya 23 tenda berada ditempat ini, kami mulai menggigil
hebat, suhu di pos ini lebih rendah dari pos pertama kita mendirikan tenda,
keluh kesah semua pendaki terdengar riuh, menandakan dinginnya menusuk sampai
ke rongga-rongga tulang, hampir semua pendaki memasuki tenda masimg-masing doomnya,
sedangkan saya masih diluar untuk memasak air untuk sekedar menyeduh kopi
mokacino buatan bekasi, sesaat sedang menyalakan parafin dan menyiapkan air
dalam nisting, saya sempat berbincang dengan seorang yang sudah mempunyai umur,
sebut saja pak junaedi, ia mengikuti pendakian ini sendirian tapi ikut dengan
rombongan penddaki dari kuningan “pak, mau kopinya?” tanya ku sopan sambil
tersenyum, “oh iya kang, saya lapar saya numpang menyeduh mie instan, dan
sarden boleh?” responnya sambil tersenyum baik kepada ku, “oh iya pak silahkan
saja, pak junaedi kenapa masih mendaki gunung ? padahal umur yang berkepala
tiga mestinya sudah pensiun” tanyaku agak sedikit memaksa ingin mengetahui
jawaban darinya “kang indra seorang pecintaalam kan? Pasti tahu kenapa saya
masih sering mendaki seperti ini, inilah indahnya hidup kang, kita bisa bersatu
dengan alam menjalani hari di ibukota itu menjenuhkan saya butuh refresing
sejenak dari kegiatan yang mengekang otak saya, satu kata untuk alam indonesia (indah)”
kami terus bercengkrama satu sama lain dinginnya pangasingan sampai tak terasa
membrkukan minyak untuk memasak, cintiya yang mendengar kami sedang mengobrol
pun membuka resleting tenda “kaka didalem aja, diluar dingin, didalem aja aku
kedinginan apalagi kamu ayo masuk” pinta cintiya yang meminta ku untuk
masukkedalam tenda, “kang indra itu pacarnya ya?” ujar pak junaedi sambil
menyantap mie kesukaannya, saya hanya tersenyum ke arah pak junaedi yang
mungkin mengerti arti dari senyuman itu,. malam semakin larut banyak juga
pendaki lain yang baru sampai di pos pangasinan, melihat selter penuh mereka
beranjak mendaki lagi sekedar mencari tempat yang agak lapang untuk mendirikan
tenda, tepat jam 8 malam, para srikandi yang baik hati ini mulai memasak,
seperti pada umumnya sosis, mie, saden, kornet, dan sedikit bumbu dapur di
sulap menjadi makanan yang Nikmaat “ayo masuk tenda, kak indra jangan ngroko
terus makan dulu, kak enjang masuk dulu jangan ngopi aja ayo makan” ungkap
norma dan yuli meminta kami masuk untuk makan bersama, bercahayakan hadeline yang
menggantung di atas tenda doom, kami mulai berdoa agar diberkian berkah dan
kesehatan atas makanan yang kita makan, suasana dingin ikut andil dalam masalah
perut yang keroncongan ini, “selamat makan” uacapan kami berenam didalam tenda
sambil menawari makanan ke pendaki solo tepat di depan tenda kami,.
Lagu almarhum soe hok gie yang berjudul cahaya bulan
menemani malam yang sunyi, bulan terlihat setengah sempurna di balut awan tips
disekelilingnya, taburan bintang jadi penghias gelapnya malam, semilir angin
merubah semuanya menjadi tenang entah siapa yang memulai, ketika peukul 22.00
Wib para pendaki yang berjaket tebal dan gagah berani keluar tenda dan
menikmati suasananya, gemerlap lampu kota cirebon dan kuningan terlihat jelas
dari atas sini, garis laut samudra hindia pun tak luput dari lukisan malam ini,
walau harus merasakan pelukan suhu 5°
celcius, kami tetap menikmatinya, terkecuali para srikandi yang sudah lelah,
mereka memutuskan ingin beristirahat total, saya pun ikut dalam suasana yang
damai seperti biasa menyendiri dengan
membawa parafin, kompor, kopi dan misting, tak ingin di ganggu saat sedang asik
menikmati panorama malam ya walaupun dingginnya mungkin anda takan bisa
membayangkannya tapi ini lah indahnyaberkemah beribu-ribu meter diatas
permukaan laut, dari kejauhan terliahat tenda doom kelompok kami terbuka sedikit
demi sedikit, hanya siluetnya saja yang saya lihat, saya begitu terkejut dengan dua sosok yang sedang mendekat ke arak
ku, ternyata itu norma dan enjang yang bergandengan tangan “jang mau kemana?
Aaacie yang lagi PDKT” tanyaku sambil menyulut sebatang rokok, “lagi pengen
keluar dra, nemenin norma liat-liat panorama malam, eh si cintiya kasian tuh
ajakin aja,” jawab enjang yang terlihat malu aku tanya,. Saya pun hanya
membiarkan mereka keluar entah kemana, tiga orang dari rombongan solo pun
menghampiri, sambil tetap menyeduh beberapa cangkir kopi, kita terus bercerita
tentang pengalaman masing-masing tak berselang lama kabut tebal mulai turun
pertanda suhu dingin akan memuncak,ditambah bau belerang dari kawah ciremai
yang aktif tertiup angin malam, kami memutuskan masuk kedalam tenda
masing-masing, melihat cista dan yuli tidur menggunakan SB tentara satu untuk
berdua rasanya tak tega, tapi apa boleh buat saya cuman disa menyeletingkan SB
mereka yang turun sampai kebawah dada, enjang dan norma belum juga masuk tenda
entah apa yang mereka pikirkan diluarsana, saya pun beranjak masuk dan
menggunakan SB kuning yang tersusun rapih di pojok tenda doom, “kaka kamu belum
tidur? Habis kemana aja, udaranya dingin sekali” tanya cintiya yang setengah
sadar dari tidurnya, “engga ko, habis ngobrol aja kamu tidur sana jam 4 kita
bangun, lalu packing barang yang harus di bawa ke puncak” sambil
menina-bobokannya.
Terdengar gaduh diluar tenda yang menyebabkan saya
terbangun, terlihat jam menunjuk ke angka 4.10 Wib, saya pun bergegas
membangunkan rekan-rekan setenda yang tengah menikmati hangatnya SB dan
lelapnya tidur “jang..jang.. bangun, bangun, ayo siap-siap kita packing dulu
barang bawaan lalu kita naik jam setengah limaan” ujar ku mengoyang-goyangkan
tubuh enjang yang sedang meringkuk,. Kami bergegas memasukan air secukupnya,
makanan, parafin dan alat memask ke dalam carreil keci, di luar tenda suasana
seperti pasar, semuanya sibuk dengan masing-masing kelompoknya tak merasakan
dingin yang mengiris kulit maupun menusuk tulang walau pun harus sesekali
menggigil dengan hebat, kami memutuskan berangkat pada detik ini, “semuanya
jangan lupa pakai masker kalian, setelah itu kita berangkat bersamaan, hadeline
harus dipakai di kepala tak boleh di jinjing, itu akan menyulitkan kalian dalam
bergerak karena jalan yang akan kita tempuh sama dengan jalan yang kita lalui
saat menuju camp ini pasir berbatu dan sangatcuram tak ada akar pohon yang
kalian bisa raih jadi jaga keseimbangan agar tidak tergelincir ke jurang, bedanya
kadar oksigen semakin tipis kita berada dalam ketinggian jadi badan akan cepat
letih dan jangan sampe terkena AMS yang berujung hipoksia maupun hipotermia,
kalau kalian lelah bilang saja tak perlu gengsi okeh” cela ku saat mereka
menggigil menunggu intruksi untuk pemberangkatan, langkah pun kami ayunkan
seiring waktu yang berjalan terlihat tenda, tenda di depan kami mulai kosong di
tinggal penghuninya menuju puncak, kami sempat tercengan melihat pendaki dari
indramayu, mereka tidur hanya beralaskan tikar palembang dan berselimutkan
sarung tipis “kang indra liat gak
mereka, hebat banget ya bisa bertahan dalam dingin hanya beralaskan tikar dan
berselimutkan sarung tipis” ucap cista yang melihat pendaki indramayu tersebut,
“haduh mereka itu menggunakan manajemen pendakian yang standar” ujar ku
menjawab pertanyaan cista, “maksudnya menggunakan manajement standar itu apa
kang?” tanya norma dan yuli bersamaan, “standar
bunuh diri” jawab ku cetus tanpa ekspresi,. Mereka pun terdiam dan tetap
melanjutkan langkahnya, sedikit demi sediki kami mulai merasakan letih dan
dingin yang amat sangat tangan yang terbalut pelindung tangan pun terasa dingin
saat bersentuhan dengan tanah maupun batu bau belerang yang terhempas dari
kawah memaksa masuk menerobos masker yang kami kenakan di tambah debu dari
pasir yang kami injak, lampu-lampu hadeline terang bergantian di atas mungkin
itu puncak atau hanya pendaki yang sedang beristirahat entahlah tapi kami terus
melanjutkan perjalanan yang mengagumkan ini,. norma pun tumbang, ketika 250metr
menuju puncak, enjang yang berada di jajaran paling depan langsung berlari
menghampirinya, “kak enjang aku sudak gak kuat lagi nafasnya sesak sedangkan
tangan dan kaki mulai keram seperti beku terancap kuat di dalam pasir” kata
norma yang sekarang berada di pelukan enjang, “ kamu harus kuat aku janji kita
bisa bersama-sama sampai puncak sebelum matahari 17 agustus keluar dari
peristirahatannya, kamu harus bangkit ya, kamu kuat, dra kamu berangkat saja
duluan aku akan menyusul 10 menit lagi” ujar enjang yang sedang menyakinkan
norma yang telah tumbang karna sesaknafas,. Oksigen semakin rendah bau belerang
yang tertiup dari kawan semakin membuat kami sulit untuk bernafas, ditambah
debu pasir ciremai yang berterbangan terinjak oleh para pendaki lain, saya pun
bermaksud untuk berangkat terlebih dahulu dengan membawa, cista,cintiya dan
yuli “kalian masih kuat untuk perjalanan ini?” tanyaku meyakinkan mereka ,
“kami selalu siap apa pun yang ada di hadapan kami, karena kami terbentuk oleh
suatu ketegasan, kedisipinan dan kesiapan, seperti apa yang kang indra ajarkan,
persiapan, pengetahuan, dan pengalaman kami-lah yang membuat kami bertahan
hidup dan meraih mimpi menatap mentari 17 agustus dari balik batas langit
pasundan” jawab cista dengan tegas,
cukup tepukau aku dengan apa yang baru cista katakan, membuat cintiya dan yuli
semakin bersemangat, sekarang cintiya yang berda di depan sedangkan cista,
yuli, mengikuti dari belakang dan saya sebagai tim penyapunya, terus berjalan
menanjak tanpa menoleh kebelakang, lagi- lagi satu rekan kami tumbang sekarang
yuli yang menjadi korban keganasan dinginnya ciremai, terlihat menjatuhkan diri
ketanah dan menggigil hebat, saya pun menghampiri dan memberi pertolongan
pertama, sementara itu enjang dan norma tak tahu sedang apa tertinggal 250
meter dibawah kami,. Taklama kemudian “puncak...puncak...puncak...” teriak
salah satu wanita yang tak asing suaranya, ya itu cintiya yang pertama
menginjakan kakinya di puncak ciremai jalur cibunar ini disusul oleh cista “hay cista , jangan berlalri kepuncak, tetap
santai saja nati otot kalian keram” sahut ku melihat cista yang tak sabar
mengecup cadas tetinggi itu, beberapa meter ku papah yuli walau harus
menanggung berat, kakinya keram kesemutan seperti ditusuk jarum padahal ia
mengenakan 3 pasang kaos kaki dan sepatu gunung merek ternama tapi tetap saja
sang suhu extrm teteap masuk.
Kami pun tiba di Batas
Langit Pasundan, Cadas Tertinggi Jawabarat rasanya bangga bisa menjilat
kembali kerikil tajam puncak gunung ciremai, sejuta rasa yang tak mampu
diungkapkan dengan kata-kata, terlalu banyak perjuanagn dan penebusan atas
indahnya puncak ini, mereka berteriak sekencang-kencangnya tanpa ada yang mampu
meredam emosi positif, “kang indra terimakasih ya udah bisa membawa kami para
srikandi menuju atap jawabarat” ucap yuli yang bangga atas dirinya, disusul
cista “kang trimakasih banyak buat segalanya” sambil bersalaman, “ka makasih ya
kamu udah bisa memenuhi janji kamu membawa aku sampai ke puncak ini, trimakasih
banyak” ujar cintia yang tersenyum manis menambah suasana menjadi romantis,
tapi saya belum lega sebelum enjang dan norma datang, semua pendaki hampir sampai dan berada tepat di bibir kawah, sambil
memanggil-magil rekan mereka yang tertinggal di belakang, “kak enjang.... teh
norma...” beberapa kali para srikandi berteriak memaggil nama mereka 10 menit
berselang belum ada tanda-tanda dari mereka, kami terus memanggil nama mereka
berulang-ulang begitu juga dengan para pendaki lain yang bertriak memanggil rekan-rekan
seperjuangan mereka yang belum mencapai puncak, 20 menit menunggu sorot
hadeline kami tertuju pada jalur pendakian tepat dibawah kami, terlihat bendera sangsaka merah
putih menjunjung tinggi tertiup angin kencang dan itu adalah rekan kami, rekan
sependakian kami, rekan seperjuangan kami, rekan terbaik kami, Enjang bunyamin dan norma bersama dengan mas
memet, ali dan andi yg memawa carriel dan membawa bendera yang kami banggakan ,
kami terus berteriak dari atas puncak menyemangati, agar semuanya cepat
bergabung bersama kami di atas sini “ejang semangt... norma semangt... warga
embeeee semangat batas langit pasundan sebentar lagi” sahut ku memotivasi mereka,
dengan wajah tersenyum bahagia kami menyambut kedatangan rekan kami itu, dengan
memeluk erat, sambil memegang tongkat panjang berujungkan sang merah-putih kami
berteriak “MERDEKA, DIRGHAYU INDONESIA KU YANG KE 68 TAHUN”. Tak puas hanya
dengan berteriak kami mengajak para pendaki lainnya untuk menyanyikan lagu
wajib, lagu terhormat, lagu kebangsaan bangsa yang besar lagu (indonesia raya), terlihat dari ujung
kawah sebelah barat lampu-lampu kecil pendaki gunung ciremai dari jalur
palutungan juga ikut dalam suasana sakral yang mengharukan ini, lagu indonesia
raya terngiang di puncak ciremai batas tangit pasundan, cadas tertinggi
jawabarat, suasana dingin dan ekstrem terkalahkan oleh rasa harunya kebersamaan
airmata kebanggaan air mata kemenangan terlihat dari setiap para pendaki yng
ikut bernyanyi, detik-detik yang paling ditunggupun telah tiba, sang putra
fajar datang menyambut kami yang tengah menyanyikan lagu indonesia raya, warna
merah bercampur kuning oranye memanjakan mata dan menusuk dalam hati, otak pun
tak luput memahat dan merekam detik-detik sunrish yang tiba, kita pun berteriak
seolah kita telah merdeka, berteriak sekencang-kencangnya melepaskan semua
beban yang pernah ada, inilah kami para pemuda dan pemudi indonesia yang bangga
akan negara dan bangsanya, pribahasa mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa
yang menjunjung tinggi dan menghargai jasa-jasa pahlawannya, dan kami adalah
calon pahlawan pahlawan lingkungan yang mengbdikan diri untuk lingkungan membuat
setiap inci hutan, gunung tanpa polusi dan sampah, (gunung bukan tempat sampah)
itu yang selalu saya dan rekan-rekan tanamkan kepada pendaki lain, para pecandu
ketinggian, “jangan pernah merasa merdeka bila kita tak mampu memerdekakan alam
raya indonesia, bila bukan kita siapa lagi” ucapku kepada semua para pendaki
yang mengiringi kami. Kami pun serempak berdoa untuk mengenang para pahlawan
yang telah gugur di medan perang, dan serempak berdoa untuk para pahlawan
lingkungan yang gugur di jalur pendakian semoga mereka diberikan tempat
terindah disisi Allah Swt, amin ya robal alamin. “Kita yang gagah mampu berdiri
dengan seribu mimpi dan sejuta usaha itulah hidup, Dan perjalanan yang tak
biasa adalah menari di jalan tuhan”
trimakasih mas ali yang ganteng sayangnya gk ada yang tau, dan
trimakasih mas andi yang selalu menanamkan kata semangat dalam diri saya ini,
terlebih kompas spesial dari saudara yang baru saya kenal, kompas itu sangat
berharga lebih dari apa pun terimakasih mas memet dan wage yang selalu ada
dalam pelukan kakanda mu mas memet. Thanks to alam indonesia yang telah menyatukan
kita sebagai saudara seperjuanagn dan sependakian, semoga lain waktu kita bisa
bertemu lagi di batas langit lainnya. “semangat dan kebersamaan yang membuat
semuanya menjadi anugrah terindah 17 agustus 2013 kuningan
jawabarat,(G.ciremai)
TAMAT
LAMPIRAN:
Cerita ini diangkat
dari kisahnyata, pendakian gunung ciremai 15 – 17 Agustus 2013,
Terimakasih Kepada
Allah Swt yang telah memberikan keselamatan dan kesempatan bagi kami untuk
mengibarkan bendera dan mengibarkan semangat kemerdekaan di atap jawabarat, semoga
dengan cerita ini, bisa bermanfaat untuk setip pembaca dan selalu ingat alam
adalah rekan terdekat kita yang harus kita jaga dari tangan-tangan kotor
primata sejenis kita yang rakus akan kekuasaan, rakus akan ketidak adilan
ditanah terkaya ini.
Terimakasih untukh
sahabat-sahabat semuanya, enjang, cintiya, cista, norma dan yuli (srikandi
muda). Dan terimakasih juga untuk para pendaki dari solo yaitu mas memet, ali,
ledeng dan andi, pendaki dari bogor, cirebon, indramayu, jakarta, dan seluruh
pecinta alam Indonesia.
(kang indra) (kang enjang) (cintiya)
(cista) (yuli) (norma)
(pasukan
srikandi)
Foto-foto saat
pendakian:
(leuweung datar) (menuju kuburan
kuda) (tanjakan seruni)
(tanjakan bapa tere) (tjkn.bpa tere) (batulingga dan kampung embe)
(sanggabuana II) (jalur menuju
pangasingan) (jalur menuju pangasingan)
(taman edlwise) (pangasingan) (samudra awan)
(Pendaki solo ali, memet, wage, andi) (pendaki standar bunuh diri) (ledeng
asli solo)
(sesaat sesudah uapcara) (sunrish 17 agustus) (samudra awan sunrise)
lautan awan puncak ciremai
(pasukan
srikandi dan pendaki solo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar